Klorokuin, obat COVID-19 yang tertunda?

Beberapa hari yang lalu, berdasarkan salah satu penelitian dari Lancet mengenai efikasi (kemanjuran) obat hidroksiklorokuin atau klorokuin1, WHO memutuskan untuk menghentikan sementara uji coba hidroksiklorokuin pada “Solidarity Trial” sementara data yang ada diulas ulang oleh Badan Pemantauan Keamanan Data.

Keputusan ini juga diunggah melalui cuitan di akun Twitter resmi @WHO pada tanggal 25 Mei yang lalu.

Hal ini mengundang banyak sekali debat di kalangan masyarakat awam. Oh ya, tentu saja yang berdebat adalah masyarakat awam, kalangan medis jarang berdebat tentang sebuah penelitian yang menggunakan analisis daftar multibahasa atau ulasan sistematis, kecuali dia bisa membantah atau menyatakan bahwa metode yang digunakan dalam penelitian tersebut cacat secara keilmuan. Sementara masyarakat awam akan berdebat mengenai apa yang mereka tahu dan percaya, bukan berdasarkan keilmuan. Lanjutkan membaca “Klorokuin, obat COVID-19 yang tertunda?”

Vaksin MMR Menyebabkan Autisme?

Vaksin MMR adalah vaksin umum yang diberikan pada anak-anak untuk mencegah penyakit dan komplikasi berat dari penyakit campak (measles), gondongan (mumps) dan cacar/campak Jerman (rubella)1. Namun banyak orang tua yang khawatir melakukan imuniasi MMR karena takut vaksin MMR akan menyebabkan autis(me) pada anak mereka.

Apakah benar vaksin MMR menyebabkan autisme pada anak?

Kita harus melihat kembali ke belakang, riwayat munculnya hubungan antara vaksin MMR dan autisme.

Lanjutkan membaca “Vaksin MMR Menyebabkan Autisme?”

Ketika Kampanye Kondom tidak Masuk Akal

Kemarin diperingati sebagai hari AIDS sedunia, dan salah satu target dunia kesehatan di mana pun di belahan bumi ini adalah memutus mata rantai penularan HIV/AIDS ini. Lalu di Indonesia, kementerian kesehatan membuat kampanye kondom yang menjadi pekan kondom nasional. Saya seorang teman mengirim tweet kendaraan kondom yang digunakan untuk kampanye, saya pun cuma bilang “wow”, karena tentu saja untuk kampenye kendaraan itu akan begitu menarik perhatian.

Tapi mari kita kembali, muncul kemudian permasalahan. Gerasakan agresif dari kementerian kesehatan ini pun mengundang banyak pesimisme dan (tentunya) penolakan. Kalau yang menolak kelompok yang sama dari tahun ke tahun, rasanya biasa saja. Tapi jika kemudian banyak kalangan medis ikut menolak, bahkan sampai saya dengar staf kementeriaan sendiri menolak kampanye seperti ini, maka tentu akan membuat saya bertanya-tanya lagi. Lanjutkan membaca “Ketika Kampanye Kondom tidak Masuk Akal”

Lampu Hemat Energi dan Kesehatan Kulit

Cahaya dalam panjang gelombang tertentu memiliki efek-efek yang berbeda tehadap kesehatan manusia. Anda mungkin pernah mendengarkan saran untuk berjemur rutin di pagi hari untuk mendapatkan sejumlah vitamin D bagi tubuh, atau bagaimana paparan ultraviolet menyebabkan para penduduk di negeri atap dunia lebih rentan terhadap serangan katarak.

Pagi ini, koran kesehatan rutin saya menawarkan sebuah abstrak jurnal publikasi “Photochemistry and Photobiology” yang mengambil judul “The Effects of UV Emission from Compact Fluorescent Light Exposure on Human Dermal Fibroblasts and Keratinocytes In Vitro“. Penelitian yang dimaksud berusaha menemukan apakah lampu floresen yang umum kita kenal sebagai lampu hemat energi memiliki dampak pada kesehatan kulit (spesifik pada fibroblas dan keratinosit secara in vitro). Lanjutkan membaca “Lampu Hemat Energi dan Kesehatan Kulit”

Dilema Warna Karamel si 4-MEI

Disebut 4 MEI atau 4 MI yang merupakan singkatan untuk “4-methylimidazole” yang memberikan warna karamel pada banyak produk makanan dan minuman modern, contohnya adalah Coca-Cola dan Pepsi. Namun senyawa ini juga dapat terbentuk dari proses pencoklatan (warna matang) pada makanan yang mengalami reaksi maillard antara karbohidrat dan senyawa mengandung amino. Bisa juga muncul pada makanan yang dipanggang, ataupun melalui proses fermentasi.

Dan saya juga baru mengetahui bahwa 4 MEI ini juga cukup banyak digunakan pada makanan dan minuman yang berwarna karamel. Problema muncul ketika Negara Bagian Kalifornia di Amerika sana, menambahkan 4 MEI ke dalam daftar senyawa kimia yang karsinogenik – atau dengan kata lain senyawa kimia yang memiliki sifat mampu memicu keganasan (kanker). Lanjutkan membaca “Dilema Warna Karamel si 4-MEI”

Sejumlah Fakta tentang Kebahagiaan

Kebahagiaan adalah bagian dari dunia emosi manusia, bahkan mungkin dapat dikatakan akar dari emosi positif yang dibawa oleh setiap orang. Para peneliti terus berusaha menggali misteri-misteri di balik kebahagiaan manusia, dan ini adalah beberapa yang diuaraikan oleh S. Moss – seorang penulis senior di Family Health Guide. Anda mungkin tertarik menemukan beberapa di antaranya.

1

Meskipun gene dan karakter kita menenuntukan sekitar 50% variasi dalam kebahagiaan kita, namun kondisi/keadaan kita (pendapatan dan lingkungan) hanya berpengaruh sekitar 10%. Sisa 40%-nya ditemukan dalam keseharian dan aktivitas kita, termasuk dalam berhubungan, bermasyarakat, pekerjaan dan juga hobi. Lanjutkan membaca “Sejumlah Fakta tentang Kebahagiaan”

10 Tahun Human Gnome

Sudah hampir 10 tahun sejak dua saingan besar, Human Genome Project dan dan Celera Genomics secara bersama-sama mengumumkan penyelesaian rancang (draf) sekuensi mereka pada Juni 2000. Bahkan saat itu adalah sebuah konferensi raksasa yang dihadiri oleh Presiden AS – Bill Clinton dan Perdana Menteri Inggris – Tony Blair.

Banyak orang yang berharap setelahnya – mungkin juga karena pidato gedung putih – bahwa ini merupakan tanda awal di mana era kedokteran molekuler akan memberikan jalan-jalan baru pencegahan, diagnosa, pengobatan hingga penyembuhan berbagai penyakit.

Lanjutkan membaca “10 Tahun Human Gnome”

Peliharaanmu Cermin Karaktermu?

Apakah Anda seseorang “bertipe kucing” ataukah bertipe anjing”? Kadang bahkan orang yang tidak memelihara keduanya pun mencoba mengidentifikasikan dirinya lebih lekat pada yang satu dibandingkan pada yang lain, dan ada jawaban yang mengungkapkan kepribadian mereka, seperti ditunjukkan dalam sebuah penelitian.

Sebagai kunci aturannya, anjing bersifat lebih sosial dan sangat bersemangat untuk sesuatu yang menyenangkan, sementara kucing lebih introvet (tertutup) dan memiliki rasa ingin tahu.

Dalam penelitian baru-baru ini, orang yang mendeskripsikan dirinya sebagai hewan-hewan ini memiliki atau berbagi ciri-ciri yang serupa.

Lanjutkan membaca “Peliharaanmu Cermin Karaktermu?”

Ponsel di Pinggang dapat Melemahkan Tulang?

Kini telepon seluler (ponsel/handphone) sepertinya sudah ada di mana-mana, dan sudah banyak yang memilikinya, mulai siswa sekolahan hingga para pekerja dewasa. Beberapa orang suka menempatkan ponsel ini dalam sebuah wadah yang bisa diletakkan di pinggang (biasanya terhubung dengan ikat pinggang), terutama pada para pengguna laki-laki, hal ini menjadi semacam mode atau tren di masyarakat.

Penelitian-penelitian awal menduga bahwa jika seseorang menempatkan ponselnya di pinggang, hal ini dapat melemahkan area pelvis secara luas yang biasanya digunakan pada bone grafting.

Menggunakan suatu teknik sinar-X yang dipakai dalam mendiagnosis dan memantau pasien-pasien dengan osteoporosis, para peneliti dari Turki (Universitas Suleyman Demireli) mengukur densitas (kepadatan) tulang pada 150 pria yang biasanya membawa ponsel mereka dengan melekat pada ikat pinggang.

Orang-orang tersebut membawa ponsel mereka setiap harinya dengan waktu rata-rata selama 15 jam; dan mereka telah menggunakan ponsel rata-rata selama enam tahun.

Para peneliti menemukan bahwa kepadatan mineral tulang sedikit kurang pada sisi di mana ponsel biasanya dibawa dibandingkan sisi yang tidak pernah kontak dengan ponsel. Perbedaan yang ditemukan tidaklah bermakna secara statistik dan jauh dari apa yang bisa dilihat pada berkurangan kepadatan tulang pada penderita osteoporosis.

Namun penemuan-penemuan meningkatkan kemungkinan bahwa kepadatan tulang dapat terpengaruh (secara buruk) oleh medan elektromagnetik yang dipancarkan oleh telepon seluler. Peneliti Tolga Atay dan rekan-rekannya mencatat hal ini dalam keluaran terbaru mereka.

Para pria dalam penelitian relatif masih muda – usia rata-rata mereka sekitar 32 tahun – dan para peneliti memiliki hipotesisi bahwa kehilangan massa tulang bisa lebih bermakna pada lansia dengan risiko osteoporosis yang lebih besar. Penelitian ini muncul pada Journal of Craniofacial Surgery Edisi September.

Ini adalah salah satu yang pertama menduga bahwa paparan jarak dekat – jangka panjang terhadap telepon seluler dapat melemahkan tulang, dan para peneliti menekankan bahwa temuan-temuan mereka masih berupa temuan awal atau pendahuluan.

Pendapat Lain

Frank Barnes (PhD) yang merupakan profesor terkemuka pada bagian teknik elektro dan komputer di Universitas Colorado, mengatakan bahwa ia tidak tahu ada penelitian lain yang memeriksa dampak telepon seluler terhadap kepadatan tulang.

Barnes yang mengepalai komite Dewan Penelitian Nasional (NRC) diminta oleh FDA (BPOM-nya Amerika) untuk melaporkan penelitian yang menilai ulang keamanan telepon seluler.

Ia menunjukkan bahwa gelombang-gelombang elektromagnetik telah digunakan secara eksperimental untuk menambah pertumbuhan tulang pada orang-orang dengan patah tulang yang tidak dapat sembuh. Terapi gelombang elektromagnetik juga didapati mampu memperkuat tulang pada penelitian yang melibatkan orang-orang dengan osteoporosis.

Namun Atay dan koleganya menunjukkan bahwa penelitian-penelitian ini melibatkan gelombang-gelombang elektromagnetik dengan frekuensi amat lemah sekitar 15 hingga 70 Hz, sedangkan telepon seluler biasanya memiliki gelombang elektromagnetik antara 900 hingga 1.800 MHz.

Komite NCR yang dikepalai Barnes memublikasikan laporannya pada Januari 2008, menyimpulkan bahwa lebih banyak penelitian diperlukan untuk menilai penggunaan telepon seluler apakah berhubungan dengan permasalahan kesehatan jangka panjang.

Barnes mengatakan bahwa ada sangat sedikit penelitian yang bertujuan untuk mengetahui apakah gelombang radiofrekuensi yang dipancarkan oleh telepon seluler memberikan risiko pada kelompok tertentu, seperti anak-anak, dewasa, wanita hamil dan janinnya.

Lebih dari 500 penelitian telah dipublikasikan dalam hal memeriksa dampak telepon seluler  terhadap kesehatan, seperti misalnya apakah telepon seluler menyebabkan kanker. Namun hasil-hasilnya masih bermasalah atau saling bertentangan.

Adaptasi dari: Cellphone on Hip may Weaken the Bone.