Mobile WiFi TP-Link M5350

Sore ini kami memutuskan membeli sebuah perkakas mobile wifi (mifi) di Jogjatronik. Karena beberapa bulan ini jaringan RT/RW Net mengalami gangguan. Saya sendiri tidak ingin membeli mifi secara daring, karena banyak toko yang menawarkan harga yang relatif tinggi walau pilihannya jauh lebih beragam dibandingkan ke toko langsung. Lanjutkan membaca “Mobile WiFi TP-Link M5350”

Asus VivoPC ROG GR8

Saya iseng jalan-jalan melihat mini PC, karena berusaha mencari komputer yang jika bisa hemat daya dan energi. Dan mini PC adalah pilihan yang baik dengan konsumsi listrik yang hemat. Tapi setelah melihat produk yang satu ini, Asus VivoPC ROG GR8, saya malah kaget jika ada mini PC yang memiliki performa sebaik ini (secara teori, karena belum mencoba langsung), kalau tulisan di atas kertas, maka performanya bisa dikatakan menyamai desktop gaming yang banyak disuka anak muda untuk memainkan video game kelas berat. Lanjutkan membaca “Asus VivoPC ROG GR8”

Sebenarnya mesin pencetak tiga dimensi, yang dikenal sebagai Printer 3D sudah mulai banyak beredar di pasaran, namun harganya masih cukup tinggi. Saya sendiri merasa tidak akan memerlukan teknologi ini dalam tempo dekat, atau mungkin tidak akan pernah sama sekali. Printer 3D terkesan seperti kamera SLR kelas atas, mahal, dan hanya penghobi atau profesional yang menggunakannya. Lanjutkan membaca “Era Mesin Printer 3D”

Era Mesin Printer 3D

Canon Pixma MP237 dan Ubuntu Linux

Anda mungkin masih ingat saya baru saja memasang Ubuntu Raring Ringtail pada Netbook Asus X201E saya. Dan sekarang saya harus menyandingkannya dengan sebuah printer baru yang terpaksa dibeli untuk menyelesaikan sejumlah tugas. Kota kecil saya tidak menyediakan printer yang ramah untuk Linux, misalnya dari produsen HP – namun lebih banyak menggunakan printer Canon yang dijual satu paket dengan sistem tinta infus (mereka bahkan tidak menyediakan tinta asli dan penjualan tanpa paket tidak tidak asli).

Karena terburu-buru, saya terbentur menemukan sisa printer yang cukup besar, yaitu Canon Pixma MP237 yang merupakan printer multifungsi dilengkapi dengan kemampuan melakukan pemindaian scanning dokumen. Saya tentu tidak masalah jika menggunakan Windows pada laptop utama saya, tapi pada sistem operasi openSUSE ataupun Ubuntu tentu tidak akan sederhana. Lanjutkan membaca “Canon Pixma MP237 dan Ubuntu Linux”

GeoGebra – Belajar Matematika di Komputer

Mereka yang sedang memerlukan peranti lunak (software) untuk belajar ataupun mengajar Matematika melalui komputer, maka GeoGebra bisa menjadi salah satu alternatif pilihan yang baik. Peranti lunak ini sudah dianugerahi sejumlah penghargaan di Eropa dan juga Amerika.

Selain gratis, namun juga bisa digunakan di pelbagai platform secara dinamis. Memuat materi pendidikan untuk aljabar, geometri, kalkulus, statistik termasuk tabel, dan grafik dalam sebuah paket tunggal yang mudah digunakan. Jika Anda orang tua atau guru les privat, GeoGebra bisa dijadikan bahan pengajaran yang baik untuk anak dan anak didik. Lanjutkan membaca “GeoGebra – Belajar Matematika di Komputer”

HP Deskjet dan openSUSE Asparagus

Saat saya mencari printer baru untuk keperluan di rumah saja, saya memutuskan untuk mencari printer yang mendukung sistem operasi open source (dan proprietary) dengan harga terjangkau. Tentu saja, produk dari Hewlett-Packard (HP) akan menjadi pilihan saya, dan setelah mencari beberapa informasi tentang printer yang umum beredar dan mempertimbangkan keterjangkauan harganya, saya memilih printer HP Deskjet 1050 j410.

Tentu saja dari semua jenis printer yang beredar di pasaran akan mendukung sistem operasi Windows dan Mac OS secara baik, namun tidak semua mendukung sistem operasi seperti Linux atau openBSD. Yah, setidaknya saya memerlukan printer yang akan bekerja pada openSUSE Asparagus dan Ubuntu Oneiric Ocelot yang saya gunakan.

Lanjutkan membaca “HP Deskjet dan openSUSE Asparagus”

Mengapa Memilih Tetikus Kelas Menengah

Tetikus adalah salah satu bagian dari komputer yang tidak terpisahkan, yah, sejak dipopulerkan oleh Apple Computer zaman dulu kala, tetikus atau mouse ini sudah melekat pada penggunaan komputer pribadi. Komputer-komputer berbasis antarmuka grafis yang memukau bagi kebanyakan orang tidak akan pas tanpa kehadiran tetikus.

Saya sendiri terbiasa memanfaatkan tetikus untuk bekerja dengan komputer. Namun sudah menjadi kebiasaan saya untuk menggunakan tetikus kelas menengah, karena waktu hidupnya yang lumayan lama. Biasanya saya memilih tetikus yang didesain untuk kebutuhan gaming karena tahan dengan kuantitas klik yang lebih banyak.

Lanjutkan membaca “Mengapa Memilih Tetikus Kelas Menengah”

Migrasi ke MOBI

Akhirnya tersedia juga paket internet MOBI dari mobile-8 di Jogja. Hari ini aku mengunjungi pusat Mobile-8 di daerah Janti, sebenarnya ingin menanyakan promo hp cdma gratis bagi pelanggan yang telah berlangganan pasca bayar selama setidaknya setahun, hmm…, namun ternyata untuk promo ini diperlukan kartu kredit yang tidak kumiliki, he he…, batal deh, padahal kalau tidak ada hp gimana mau nelpon coba?

Kemudian justru pertanyaan pertama yang kuajukan adalah paket mobi (mobile broadband internet) yang sudah lama kuinginkan. Sementara dulu kuganjal dengan menggunakan paket Broom dari IM2. Ternyata paket mobi (plus modemnya) tersedia.

Mobi adalah layanan internet dari pihak mobile-8 yang menggunakan sistem volume based, paket terdiri dari kartu dan sebuah modem Pantech PX-500 (CDMA 1x EVDO Rev. A) dengan kecepatan transfer data hingga 3.1 Mbps. Keterangan lebih lengkap silakan kunjungi situs mobile-8 atau mobi. Karena biasanya aku kesulitan masuk ke situs mereka dengan browser Firefox, kusarankan menggunakan Chrome atau Opera.

Sedikit reviewku sebagai berikut:

1. Kecepatan: Karena saat ini di Jogja belum tersedia jaringan EVDO, maka kecepatannya akan setara dengan GPRS/EDGE atau sama dengan paket IM2 Broom kira-kira. Keuunggulannya, terletak pada stabilitas jaringan, tampaknya jaringan mobile-8 cukup stabil.

2. Instalasi: proses instalasi saya serahkan pada costumer service dari pihak mobile-8 saat pembelian dengan membawa serta notebook ACER TravelMate 6293 yang kugunakan. Prosedurnya cukup mengikuti buku petunjuk yang disertakan. Berbeda dengan instalasi modem lain, instalasi di Vista memerlukan waktu agar sinkronisasi pengenalan pada kandar baru bisa berjalan dengan baik (hingga beberapa menit lamanya untuk mendeteksi modem baru). Lain-lain tidak ada masalah, karena disertakan driver khusus bagi Vista.

3. Penjalanan program: kesan penjalanan program cukup lama, pertama memasukkan modem ke slot PCI Express, kemudian menjalankan program Access Management yang terkesan “berat”. Namun tidak lama setelah itu, ketika sambungan sudah bisa dilakukan, tidak ada masalah dengan proses penyambungan, dan koneksi internet dapat dijalankan dengan baik dan stabil.

4. Yang saya suka: modem PCI Express tidak mengambil slot USB yang sudah minimal, kecepatan yang stabil, harga beli yang terjangkau, vista compatible.

5. Yang kurang saya suka: memulai programnya agak “berat”,  palm rest di bagian kiri menjadi cepat panas – karena di sana lokasi slot PCI Express, hmm…, harganya perbulannya…, mari kita lihat nanti, aku belum pindah ke pasca bayar…

Yah…, tinggal beberapa waktu lagi diperlukan untuk meninjau, apakah IM2 Broom layak migrasi ke mobi.

Tag Technorati: {grup-tag}Akses internet,mobi,mobile-8,modem cdma,pantech px-500,vista,review

Test Drive TravelMate 6293

Sudah seminggu sejak kugunakan pertama kalinya laptop baruku, Acer TravelMate 6293. Sebenarnya sejak awal bukanlah notebook dari keluaran Acer yang ingin kudapatkan. Namun mungkin notebook keluaran Asus, Funjitsu atau Dell, hmm… mungkin juga IBM Lenovo. Namun untuk spesifikasi tertentu, harga-harga notebook itu sangatlah tinggi bahkan hampir sulit terjangkau. Jadi aku memutuskan membeli notebook yang satu ini. Spesifikasinya menggunakan Intel Centrino 2 dengan Windows® VistaTM Business SP1, didukung memori 2048 MB DDR3 dengan kapasitas hardisk 250 GB, ini sangat membantu kerjaku sehari-hari, walau harus diakui bahwa memori sebasar 2 GB masih agak membuat Vista terkadang berjalan terseok di beberapa kondisi. Skor indeks pengalaman yang diberikan oleh Vista sebesar 3.7 poin, dan memang terendah pada grafik 3D yang digunakan, namun tentunya untuk kerjaan seorang mahasiswa hal itu sedikit minim dipertimbangkan, jika memang suka nge-game mengapa tidak membeli sekalian Aspire Predator yang menggunakan Core 2 Duo Extreme, he.. he… ^_^

Laptop yang menggantikan ECS seri 536 ini memiliki spesifikasi sebagai berikut:

Product Name

    TravelMate 6293

Operating System

    Microsoft® Windows Vista™ Business , Service Pack 1

Processor

    Intel(R) Core(TM)2 Duo CPU     P8600  @ 2.40GHz

    Front Side Bus Speed 1066 MHz; Cores: 2

    L1 Cache 32 KB x 2; Execution Trace Cache 32 KB x 2

    L2 Cache 3 MB

System Memory

    2048 MB DDR3

Hard Drive

    Hitachi HTS542525K9SA00, 232,88 GB

CD/DVD Drive

    HL-DT-ST DVDRAM GSA-T50N

Video

    Mobile Intel(R) 4 Series Express Chipset Family

    Total Aviable Graphics Memory: 796 MB; Dedicated Video Memory 64 MB; System Memory 64 MB

Audio

    Realtek High Definition Audio

Webcam Device

    Acer Crystal Eye Webcam 1,3 MP

Network

    Broadcom NetXtreme Gigabit Ethernet

    Intel(R) Wireless WiFi Link 5300

    RAS Async Adapter

    HDAUDIO Soft Data Fax Modem with SmartCP

Serial Port

    Enabled

Infrared

    Enabled

Parallel Port

    Enabled

UUID

    44560DD0634011DDA70E00A0D1A9EDE5

Serial Number

    LXTQP0Z017832012852300

BIOS Version

    V1.06

Battery

    4500mAh, LI-ION (6 cells)

Dengan kemampuan daya tahan bateri lebih dari 3 jam amat sangat membantu dalam kegiatan sehari-hari yang memang harus bergerak dari satu tempat ke tempat lain, dilengkapi dengan Bluetooth untuk mempermudah sinkronisasi dengan berbagai media. Seminggu ini test Drive menunjukkan kinerja yang memuaskan, walau digunakan berjam-jam sama tidak terasa panas di pangkuan, yah… ini meningkatkan kenyamanan bekerja.

Walau demikian aku melakukan beberapa perubahan, seperti McAfee Security System yang dibawanya kuganti dengan Avast! Antivirus, karena saat kutes memasuki beberapa situs yang dideteksi sebagai situs penyerang (yang ini emang ide gila cari mari …), McAfee sama sekali tidak mendeteksi bahaya, kukira aman saja sampai akhirinya laptopku kinerja jadi sangat lemot. Akhirnya kutemukan banyak malware yang berjalan pada sistem memori sehingga, mau tidak mau, aku mengeksekusinya dengan cara klasik, boot scan dengan Avast! Antivirus, dan aku bisa tetap tenang dalam perlindungan antivirus terbaik yang pernah kupilih, he… he… dan tentunya tetap gratis dari Alwil Software si produsen Avast! Sebenarnya salah seorang teman pernah merekomendasikan AntiVir karena merupakan yang paling banyak mampu mendeteksi threat pada sistem, kukatakan tak mau, habis… untuk program yang serupa AntiVir memakan amat banyak resource pada memori sehingga terkadang kesannya seperti virus makan virus. Yang lain waktu itu menyarankan AVG Free!, ah… kubilang tapi walau sama-sama gratis, perlindungan AVG tidak selengkap Avast! Bahkan mereka tak menambahkan antirookit setahuku, yang di Avast! Home Edition dilengkapi dengan sangat baik. Ha.. ha…, cukup ngomongin antivirusnya, nanti dikiranya aku promosi lagi, namun aku memang suka menggunakan Avast! Antivirus, hanya saja tentu ada persyaratan untuk diperbaharui setiap saat, jangan lupa mencentang atumatic update pada setingannya.

Kini dengan latop berlayar 12.1” ini, aku bisa membawa beban lebih ringan dan kinerja lebih baik. Yah…, semoga bermanfaat ke depannya… dan tentu sebaiknya bermanfaat, karena sudah kukeluarkan US$ 1290 untuk mendapatkannya (hus… dilarang menggunakan mata uang selain rupiah dalam bertransaksi menurut RUU mata uang, bener ga sih?)

Gagal Cetak (Printing) Tahan Air

Beberapa waktu yang lalu, aku dihadapkan pada sebuah mini konseling dari seorang teman yang merasa dirugikan oleh pihak penyedia jasa isi ulang tinta printer. Ia membeli sebuah printer Canon Pixma IP1880 (seri 1800) beberapa bulan yang lalu, dan ber-inisiatif menggunakan metode isi ulang infus (continius ink system) pada printer tersebut, tentu saja ini karena pengalaman membuktikan bahwa metode ini jauh lebih hemat dibandingkan dengan mengisi dengan sistem ‘suntik’, tetes, atau yang paling membuat pusing adalah jika harus membeli catridge atau tonner baru yang harganya tidak akan terjangkau oleh mahasiswa secara umum.

Ia memiliki sejumlah koleksi buku elektronik yang ingin ia cetak di rumah, karena itu ia memutuskan untuk memasang CIK (continius ink system … – kuharap tulisannya benar) pada printer barunya. Tentu saja itu harus mengorbankan kualitas tinta chromalite (kualitas warna pada kertas foto yang akan tetap cemerlang selama 100 tahun – sesuai iklannya) yang dibawa oleh Pixma IP1880 ini. Mungkin karena kurangnya pehaman, ia hendak mengganti dengan tinta yang berkualitas Durabrite sebagaimana dimiliki oleh printer-printer Epson terbaru, dalam hal ini adalah hasil cetakan pada kertas HVS akan tahan pada siraman air (waterproof), walau demikian yang kemungkinan hancur oleh air adalah kertasnya (he… he… terkadang sama aja bohong). Ia memilih biro jasa Acasiana yang sudah terkenal di area tinggal kami sebagai salah satu tempat refill tinta printer dengan kualitas yang sangat baik. Ia sempat memastikan pada para pekerja Acasiana, apakah tinta yang dibelinya (terinstall) pada printernya tahan air, dan menurutnya para petugas Acasiana sudah menyatakan padanya bahwa tinta itu tahan air.

Aku sendiri tak tahu menahu masalah ini sampai ia mengatakan padaku bahwa ia baru mendapati bahwa hasil cetakannya sendiri luntur ketika terkena air (saat ia bersin … ha.. ha..), tentu saja ia kemudian melakukan konfirmasi ulang pada pihak Acasiana, dan terpaksa mendapat jawaban yang memberatkan hati, bahwa tinta itu tidak waterproof di media HVS. Setelah ralat informasi yang memberatkan hati ini, ia merasa tertipu oleh pihak Acasiana yang sebelumnya menyatakan bahwa tinta produk mereka pada Pixma IP1000 adalah tinta yang waterproof pada media HVS maupun photopaper. Ia sudah membayar lima kali lebih mahal dibandingkan dengan membeli tinta standar lainnya untuk CIK (semisal tinta merk Speed yang kugunakan pada printer sejenis yang sama), ia mengeluarkan dana setara untuk membeli sebuah tinta se-kualitas durabrite dari Epson, tapi dengan hasil yang tidak seindah harapannya.

Aku hanya bisa mengatakan, bahwa sepengetahuan-ku, Pixma IP1880 (1800-series) tidak memiliki kemampuan mencetak waterproof di media HVS, bahkan tidak ada tinta yang sanggup untuk itu. Jika ingin cetakan waterproof untuk koleksi buku, maka Epson Durabrite adalah pilihan yang baik. Sepertinya kini ia akan selesai berlangganan di Acasiana, sejak merasa tertipu itu, ah… padahal ini hanyalah kesalahpahaman, mungkin pegawai atau petugas Acasiana belum berpengalaman sehingga keliru memberikan informasi dan konfirmasi.

  Copyright secured by Digiprove © 2010 Cahya Legawa