It’s Going to be Okay

Bahkan kekhawatiran tidak akan membawa ke mana-mana. Hanya berputar-putar dan kemudian jatuh ke dalam keputusasaan. Mengapa tidak melihat ke depan? Jangan khawatirkan langit akan runtuh, ketika jiwa masih menyala hangat dengan segenap semangat. Dan jangan khawatir, karena atas apa yang telah dilalui selama ini, maka semuanya akan baik-baik saja. https://www.youtube.com/watch?v=5pBjopDymts

Mengapa Kita Berciuman?

Saya tidak tahu, apakah orang akan bertanya-tanya pada diri mereka sendiri, mengapa mereka berciuman, ataukah hanya akan melewati bagian itu dan langsung pada intinya? Kadang orang menemukan banyak alasan untuk berciuman, kadang tanpa alasan sama sekali. Kadang karena kebiasaan, atau karena desakan. Dan jawaban itu rasanya sejak dahulu akan tetap sama. Apapun alasannya, ciuman sudah … Lanjutkan membaca Mengapa Kita Berciuman?

Kota Tua

Sang Kala menundukkan waktu di lentik jemari cakrawala Hendak asa bergulung bersama kemuraman Senja tak menjawab, tak pula melirik celah harap Hanya menukik tinggi di antara langit dan keburamanAku berdiri di atas tanah tanpa setapak Bertanya mengapa angin menindihkan kepekaan yang rintih Bahwa dunia memiliki sesuatu yang tak tampak Baik dalam anganku yang berlari ringkih … Lanjutkan membaca Kota Tua

Pelbagai Wajah

Jangan menyangkal kehidupan dari apa yang telah kita saksikan, walau mungkin bukanlah kebenaran yang absolut. Jika kita dengan seketika menolaknya, maka mungkin kita akan menghilang sebuah peluang untuk melihat fakta yang sesungguhnya dari setiap gerak kehidupan. Seperti awan yang bersenandung di angkasa, kadang terseok bak orang tua, kadang berlari kencang seperti anak kecil yang berlari … Lanjutkan membaca Pelbagai Wajah

Percakapan Si Bodoh (Bag. III)

Saat itu pertengahan musim gugur, sore dengan suhu udara dan kelembaban yang seakan bersaing menuju tangga terbawah, matahari tampak meninggalkan singgasana keemasannya nan jauh di Barat Daya. Daun maple pun sudah tidak lagi menyisakan kecerahan di awal musim. Dua orang pemuda sedang berjalan menyusuri trotoar kecil di kota kecil mereka. Pemuda pertama berbadan lebih tinggi … Lanjutkan membaca Percakapan Si Bodoh (Bag. III)