Novel SkyFire Avenue

Pada era di mana peradaban manusia telah mulai menjamah bintang-bintang di semesta membawa warisan-warisan lama, di sini kisah SkyFire Avenue dimulai. Sebuah planet kecil di Aliansi Timur bernama Planet Skyfire, di dalamnya adalah Kota Skyfire, dan tempat yang paling terkenal ada Skyfire Avenue, jalan sepanjang 2048 meter.

Terdapat 168 toko di sepanjang jalan ini, dan tiap-tiap pemilik toko ini adalah para ahli yang sangat tangguh.

Jalan ini tidak boleh dilalui oleh kendaraan atau robot apapun, apalagi mecha. Bahkan polisi yang berpatroli harus berjalan kaki. Ini karenakan, jalan ini hanya diperuntukkan bagi pejalan kaki, jalur bagi para bangsawan, tersembunyi dari dunia yang bergemerlap dengan teknologi.

Lan Jue, yang merupakan prajurit bayaran terhebat, dengan julukan ‘Zeus’, telah mengasingkan diri di Skyfire Avenue setelah kematian istrinya. Nama tokonya adalah ‘Toko Permata Zeus’, dan di Skyfire Avenue ini dia diberi gelar, ‘Tuan Permata’.

Lanjutkan membaca “Novel SkyFire Avenue”

Novel Transcending the Nine Heavens

Mengambil judul ????? – Melampaui Kesembilan Langit, novel “Transcending the Nine Heavens” merupakan salah satu xanxia yang menarik untuk dibaca. Di sana ada banyak xanxia, namun yang satu ini unik. Saya baru membaca terjemahan hingga bab ke-100 dari sekitar 2600 lebih yang sudah dipublikasikan pada novel aslinya hingga akhir cerita. Dan menurut saya, novel ini sangat layak untuk diikuti bagi penggemar xanxia. Lanjutkan membaca “Novel Transcending the Nine Heavens”

Legend of Korra Tampak Menjanjikan

Ketika saya menulis “the Legend of Korra” sekitar hampir 2 tahun yang lalu, kini serial animasi lanjutan “Avatar: the Last Airbender” sudah mulai tayang di Nick. Dua serial pertama yang berkualitas HD dan bisa didapatkan di iTunes secara gratis sangat menjanjikan untuk disimak kelanjutannya.

Saya tidak tahu persisnya, namun setidaknya sampai saya menulis ini, sudah ada 7 episode yang ditayangkan – dan mungkin akan mengungkap lebih banyak kisah lagi. Dari 4 episode awal yang saya miliki, baru 2 episode yang saya saksikan. Dan berarti masih ada 24 episode menarik lagi yang akan menunggu. Lanjutkan membaca “Legend of Korra Tampak Menjanjikan”

Eden of the East

Berjudul asli di negerinya sebagai Higashi no Eden, ini adalah salah serial anime yang paling ditunggu pada masanya. Akhir pekan yang lalu, dan akhir pekan sebelumnya – saya menghabiskan waktu menyaksikan serial ini, termasuk dua film teatrikalnya “The King of Eden” dan “Paradise Lost”.

Menyaksikan Eden of the East serasa menonton Bourne Identity, hanya saja dengan latar cerita yang jauh lebih kompleks, dan lebih banyak unsur petualangan dan romansanya. Cerita yang sesungguhnya mungkin sederhana, namun imajinasi dan penekanan alur cerita yang tidak biasa membuatnya tampak menarik dalam kompleksitasnya. Lanjutkan membaca “Eden of the East”

Parlemen Daring

Dalam ensiklopedia bebas ‘wikipedia’ berbahasa Inggris, kata parlemen yang diambil dari bahasa Inggris parliament, yang dijelaskan sebagai berikut:

A parliament is a legislature, especially in those countries whose system of government is based on the Westminster system modeled after that of the United Kingdom. The name is derived from the French parlement, the action of parler (to speak): a parlement is a discussion. The term came to mean a meeting at which such a discussion took place. It acquired its modern meaning as it came to be used for the body of people (in an institutional sense) who would meet to discuss matters of state. Lanjutkan membaca “Parlemen Daring”

Cicak Vs Buaya: Antara Politisasi dan Realita Negeriku

Pertama-tama, saya hanyalah bagian dari masyarakat biasa, saya bukanlah politikus atau pun pengamat politik, atau pun memiliki ketertarikan dalam bidang politik. Namun sebagaimana para sahabat lain yang juga memberikan keprihatinan mereka dalam kondisi negeri ini sekarang, maka biarlah setidaknya saya memberikan suara yang tidak bermakna ini.

Tidak perlu diceritakan kembali bagaimana kronologis hal ini terjadi, sedikit banyaknya masyarakat setidaknya telah mendengar atau pun tahu. Kalau saya mungkin termasuk yang sedikit tahu, jadi tidak layak bercerita.

Namun melihat apa yang menjadi dampak dari situasi ini, melahirkan situasi-situasi lain, dan menjadi multi-krisis di negara ini. Mau tidak mau, kepercayaan terhadap para penegak hukum dan tempat masyarakat meminta perlindungan hukum menjadi menipis. Simpang siur semakin sering terdengar di antara hilir mudiknya pemberitaan di media massa.

Walau sebagian besar masyarakat telah bersuara dalam kumandang yang begitu jelas dapat kita dengar semua, itu pun merupakan wujud akan ketidakinginan mereka terhadap adanya ketidakadilan di negeri kita ini. Suara bergerak seperti ombak yang beriak ke pesisiran, dan pasti menghantam bibir pantai dengan tiada hentinya.

Namun dari semua itu, jika saya menilik jujur ke dalam diri saya, ke dalam banyak ketidaktahuan yang saya miliki. Maka saya sekali melihat diri saya tidak tahu apa-apa. Tidak melihat mungkin itulah yang dapat saya amati pada diri saya. Sehingga saya tidak memberikan justifikasi atau pun suara terhadap salah satu pihak.

Saya ingat beberapa waktu lalu berselang, ketika banyaknya suara-suara di jalanan yang menuntut lembaga-lembaga yang mereka bela tetap agar tetap berdiri tegak sebagaimana mereka menentang matahari di atas aspal yang membara. Aku melihat di siang itu, lalu lalang warga pedusunan yang sederhana, mereka mungkin telah mendengar kabar berita yang sama. Namun langkah mereka tetap sederhana, seakan dunia mereka tak berubah sejenak pun, balutan waktu membuat mereka tetap berjalan dalam kehidupan keseharian yang serupa. Tidak ada hiruk pikuk, tiada semangat yang menggebu-gebu atau pun teriakan sarat makna. Pun demikian, itulah makna kehidupan keseharian yang selalu kupandang jauh ke dalam negeriku, sebuah wajah dan cermin yang demikian adanya.

Kami adalah suara negeri, walau hanya kesunyian yang kami hembuskan dari peluh sesak napas kami, namun inilah suara negeri yang harus kau dengarkan Nak.

Demikianlah sebuah kata yang pernah tersampaikan pada saya di tepian pedesan di kala dulu. Mereka mungkin tak mengenal demonstrasi dan teriakan massal yang mampu menghalau arus politik dengan harapan memperbaiki negeri ini. Mereka mungkin bisu karena tidak memiliki kata-kata modern guna menuntut mimpi yang lebih indah. Namun karena mereka memahami bahwa hidup mesti saling berbagi dan memahami.

Negeri ini adalah sebuah bangsa besar yang tunggal dengan beragam suku bangsa dan buah budi bahasa dan budayanya. Saya termasuk orang yang rendah dalam pengetahuan politik dan hukum, namun mimpi saya tak jauh berbeda dengan kebanyakan orang, bahwa negeri ini menjadi teman yang nyaman dan damai bagi semua orang.

Jika kemudian mereka yang selayaknya menjadi panutan terpecah belah, maka niscaya negeri ini akan mengalami keretakan. Jika hari ini suara masih bisa ada yang terdengar menuntut keadilan, maka jangan sampai segala menjadi senyap seakan telah terbiasa dalam ketidakberdayaan. Suara-suara ini bisa menggerakkan alur politik negeri ini, dan biarlah pada mereka yang memahami kami menaruh kepercayaan.

Namun, walau saya tak mampu memberikan suara, namun ingatlah seperti saya juga mengingat…

Kami adalah suara negeri, walau hanya kesunyian yang kami hembuskan dari peluh sesak napas kami, namun inilah suara negeri yang harus kau dengarkan Nak.