Kesan Menggunakan Realme XT

Kurang dari tiga hari, saya mengganti ponsel lama saya dengan ponsel baru-bekas, Realme XT. Bisa dibilang sebuah proses tukar tambah, dari Xiaomi Note 4 dan BlackBerry Passport dengan ponsel second-hand Realme XT. Pada awalnya, saya juga sempat mempertimbangkan iPhone 7, namun waktu hidupnya tidak lama lagi, sekitar dua tahunan, jadi saya mengurungkannya. Xiaomi Note 4 yang saya pegang awalnya, sebenarnya masih punya dua hingga empat tahun waktu hidup lagi, hanya saja saya terkendala dengan ruang (ROM) internal yang berkapasitas 32 GB yang makin sesak, dan tidak memiliki tambahan celah untuk bergerak. Saya kehilangan beberapa pesan penting di ponsel ini karena ketidakmampuannya melakukan pencadangan secara segera.

Realme XT yang saya gunakan saat ini adalah sebuah ponsel bekas yang saya dapatkan dari toko daring. Sehingga, pengalaman saya menggunakannya, mungkin tidak akan sama dengan yang menggunakan ponsel barunya, dan saya tidak dikabari juga alasan mengapa ponsel ini dijual, apakah karena kerusakan, atau sebagainya.

Lanjutkan membaca “Kesan Menggunakan Realme XT”

Mengapa Memilih Redmi Note 4?

Dengan pembatasan aplikasi perpesanan WhatsApp yang tidak akan didukung lagi pada BlackBerry OS 10 per 30 Juni 2017 mendatang, saya dipaksa untuk memilih salah satu ponsel murah yang masih mendukung perpesanan WhatsApp.

Pilihan ini jatuh pada sebuah ponsel Android pabrikan asal negeri Tiongkok. Xiaomi seri Redmi Note 4. Ponsel ini resmi masuk ke Indonesia dengan kisaran harga dua hingga dua setengah juta rupiah. Dan saya tentunya memilih harga yang paling murah.

Alasan saya memilih Redmi adalah memberikan harga yang sangat terjangkau dengan kualitas perangkat keras yang tidak mengecewakan. Mungkin layarnya tidak seindah Amoled, tapi masih sangat nyaman digunakan.

Saya sendiri kemudian tidak memanfaatkan MIUI setelah mencoba beberapa hari, karena sama sekali tidak cocok dengan selera saya dan bagaimana saya memanfaatkan antarmuka suatu ponsel cerdas. Antar muka BlackBerry OS 10 menurut saya masih yang paling ramah bagi saya untuk digunakan. Untuk Android OS, saya memilih menggunakan salah satu antarmuka rancangan Microsoft karena saya bekerja dengan sistem penyimpanan awan OneDrive.

Sedikit yang membuat saya terkejut, ternyata jumlah bloatware di Redmi ini sangat sedikit, dan bisa disingkirkan dengan mudah. Bagi orang lain mungkin tidak begitu penting, tapi keberadaan bloatware bisa menguras RAM hingga kering dan menurunkan performa ponsel hingga jadi cukup mengganggu.

Pemilihan antara Swift dan Google Keyboard membuat saya cukup senang. Keyboard besutan Google hingga saat ini saya rasakan pas untuk Android.

Kejutan lain adalah fitur keamanan sidik jari. Ini mempermudah saya membuka ponsel yang terkunci dan mengamankan aplikasi serta data di ponsel. Fitur pembaca dengan pencahayaan khusus bisa diterapkan pada sejumlah aplikasi, dan bagi saya yang suka membawa melalui Opera Mini, ini memberikan kenyamanan tersendiri. Kebergunaan saya rasa dirancang cukup memuaskan pada ponsel ini.

Saya memang tidak meminta banyak dengan anggaran terbatas, namun saya justru mendapatkan lebih banyak dari yang saya harapkan pada ponsel Redmi Note 4. Kecuali untuk kualitas fotografi yang lebih rendah dari harapan saya, lain-lainnya terasa amat memuaskan.

Setelah Nokia, Beralih ke Mana?

Apa Anda pengguna Nokia, dan kini perusahaan tersebut telah diambil alih oleh Microsoft – dan mungkin dalam waktu dekat, Nokia akan lenyap dari muka bumi.  Disayangkan memang, tapi inilah pasar bebas yang konon diusung oleh peradaban modern, di mana sebuah perusahaan yang dirintis dengan demikian panjang bisa runtuh dalam sekejap. Jika Anda penggemar Nokia, mungkin akan mulai berburu koleksi ponsel-ponsel lawasnya untuk kenangan. Atau Anda beralih ke Microsoft’s Gadget?

Lawakan Nokia Microsoft

Lawakan Linux.com tentang Kuda Troya Microsoft di dalam Nokia.

Tapi di balik cerita sedih Nokia yang “gugur”, benih-benih baru bermunculan. Jujur saja mengikuti perkembangannya yang pelan tapi pasti rasanya akan ramai lagi. Lanjutkan membaca “Setelah Nokia, Beralih ke Mana?”

Ubuntu Phone Layak Dinantikan dan Dipertimbangkan

Ubuntu semakin bersiap meluncurkan ponsel cerdasnya ke pasaran dunia, saat ini mereka berupaya menggaet para pengembang aplikasi untuk memperkaya koleksi aplikasi pada Ubuntu Phone. Para pengguna Linux pun mungkin akan sangat tertarik untuk beralih dari Android ke Ubuntu Phone, dan saya melihat ada sejumlah alasan untuk hal ini.

Sebagai pengguna Linux, selama saya menggunakan Android, saya sama sekali tidak bisa merasakan cita rasa Linux di dalamnya. Saya tidak tahu mengapa Google tidak membuat Android menjadi ramah pada lingkungan GNU Linux dan justru membuatnya lebih nyaman pada Windows. Bahkan aplikasi untuk Linux banyak tidak bisa digunakan pada Android yang menjadikannya agak menyebalkan. Lanjutkan membaca “Ubuntu Phone Layak Dinantikan dan Dipertimbangkan”

Respons Krisis Banjir Jakarta 2013 via Google

Dalam tulisannya, Responding to the severe flooding in Jakarta, Indonesia, tim penanggulangan krisis Google membantu penduduk Jakarta dan masyarakat Indonesia dalam merespons banjir Jakarta tahun ini melalui teknologi yang dimilikinya. Saya rasa beberapa pengguna ponsel cerdas seperti Android dapat memanfaatkan layanan ini, atau bagi mereka yang memiliki akses Internet tentunya.
Lanjutkan membaca “Respons Krisis Banjir Jakarta 2013 via Google”

Power Bank Murah Meriah

Bukan hanya uang yang sekarang bisa ditabung, namun juga daya listrik. Setidaknya mungkin itu konsep unik yang dibawa dari peralatan yang baru naik daun belakangan ini, yang bernama umum “power bank” dan sudah menjadi trademark tersendiri. Hal ini mungkin menjadi populer karena ponsel (yang konon) pintar belakangan ini cukup boros daya.

Misalnya saja BlackBerry Style 9670 lawas yang saya pegang memiliki kapasitas daya baterai 1150 mAh, dan bisa habis dalam waktu belasan jam. Sehingga tidak akan bisa cukup digunakan untuk waktu satu hari. Dan ketika perjalanan jauh, nyaris tidak dimungkinkan selalu sempat mengisi daya dari sumber listrik AC dari PLN. Sehingga, sumber daya cadangan menjadi pilihan alternatif. Lanjutkan membaca “Power Bank Murah Meriah”

BlackBerry Style 9670 CDMA Royal Purple

Nomor Smartfren (Fren) yang sudah saya gunakan sejak 6 tahun lebih masih bertahan sebagai nomor pasca bayar. Mungkin karena termasuk cukup murah digunakan. Lalu masalahnya, nomor Flexi yang sementara terhubung dan terdaftar di sekretariat KIDI pusat tentu tidak akan bisa dilepas sampai pertengahan tahun depan. Saya pun mencari ponsel CDMA yang pas.

Bagi yang sudah melihat UpDate di Lifelog saya, pasti sudah mengetahui bahwa pilihan itu jatuh pada ponsel BlackBerry Style 9670 CDMA yang berwarna Royal Purple. Alasannya sederhana, karena barang ini bukan barang baru, alias merupakan second hand. Harganya pun cukup miring dari seorang agan di Forum Jual Beli Kaskus. Lalu masalah warna, yah namanya barang bekas, tidak akan bisa memilih warna yang lain. Lanjutkan membaca “BlackBerry Style 9670 CDMA Royal Purple”

Memperpanjang Lisensi WhatsApp

Akhirnya, setelah pindah dari BlackBerry ke Android, saya memutuskan untuk memperpanjang lisensi WhatsApp Messenger/Chat karena masa pakai gratisnya sudah akan habis beberapa saat lagi (3 bulan lagi). Memang WhatsApp diberikan layanan secara gratis selama satu tahun pertama, dan dikenakan biaya sekitar US$ 0.99 per tahunnya untuk pemakaian selanjutnya.

Masalahnya, bahkan di situs resminya tidak ada keterangan bagaimana memperpanjang lisensi ini, dan di aplikasi pada Android saya hanya tampak memperpanjang via Google Wallet atau PayPal. Rasanya malas sekali menggunakan layanan tersebut. Maka saya mencari alternatif lain yang bisa membantu. Lanjutkan membaca “Memperpanjang Lisensi WhatsApp”

Tablet Android ZTE Light Tab 2 V9A

Ini bukanlah sebuah ulasan (review) untuk tablet android, namun sedikit komentar saja. Saya baru saja menggantikan BlackBerry Odin dengan Tablet Android ZTE Light Tab 2 V9A. Dengan ini berarti semua layanan BlackBerry, terutama BlackBerry Messenger saya dihentikan.

Sebenarnya bukan komputer tablet yang satu ini yang hendak saya beli. Namun Tabulet Troy 2, karena saya mencari fiturnya. Sayang, di daerah saya tampaknya susah sekali mendapatkan Tabulet Troy 2 ini, bahkan setelah mengunjungi dua toko agen penjual resminya di dua kabupaten – tetap saja sia-sia. Akhirnya, saya memutuskan membeli yang satu ini. Lanjutkan membaca “Tablet Android ZTE Light Tab 2 V9A”