Jadi Pembicara Dadakan

Awal pekan yang lalu saya menerima tawaran menjadi pembicara dalam sebuah acara bincang-bincang seputar kesehatan, donor darah dan religi yang diadakan oleh adik-adik dari KMHD UGM. Setelah saya pastikan tidak ada jadwal lain yang berbenturan, maka saya pun menyanggupinya. Materi yang saya bagikan mengambil judul, “Donor Darah dalam Pandangan Hindu”, saya usahakan berada dalam tema yang bisa diterima oleh umum.

Jika saya mengingat kembali – zaman mahasiswa tempo dulu, saya mungkin akan menolak tawaran seperti ini. Tapi ketika saya merasa sudah tidak lagi memiliki “kemewahan” seorang mahasiswa, maka saya memilih melawan kemalasan saya untuk tetap bisa berbagi dari sedikit yang saya miliki. Saya sendiri heran, kok bisanya saya duduk tenang di kursi pembicara, padahal narasumber lainnya adalah dosen saya sendiri, seorang guru besar di bidang kedokteran dan obat-obatan herbal. Continue reading →

Iklan

Tanah, Leluhur dan Dewata

Sore itu senja menggantung di antara rerimbunan nyiur yang membelah persawahan luas, Nang Olog baru tiba di gubuk kecilnya setelah usai memandikan dua sapinya sehabis menggarap sawah. Peluh mengucur pelan dari rambut-rambutnya yang telah memutih, di antara kulit-kulitnya yang telah lama mengeriput. Sesekali ia meneguk air putih dari sebuah botol bekas air mineral yang sudah tampak kumuh dan lusuh, meski tak selusuh bajunya yang dipenuhi noda lumpur dan mungkin beberapa cipratan getah pohon dan entah apa lagi yang didapatkannya dari seumur hidup sebagai tani.

Perhatian Nang Olog asyik kelebatan burung kokokan putih yang mulai meninggalkan tanah-tanah basah berlumpur pada petak-petak yang sebentar lagi tertanam padi, hingga tiba-tiba saja perhatian itu teralihkan.

Continue reading →

Mengapa Saya Tidak Ke Pura?

Beberapa waktu yang lalu seorang sahabat bertanya pada saya, mengapa saya tidak ke Pura? Apakah karena malas atau bagaimana? Hal ini mungkin adalah respon dari tulisan saya sebelumnya yang berjudul “Mencari Palangkiran”.

Saya membagi beberapa hal dalam tulisan saya di surat elektronik kemudian, dan berikut adalah salinannya yang saya cantumkan di sini:

Kenapa saya tidak pernah ke pura ya? Hmm…, kalau dipikir-pikir malah tidak menemukan alasannya. Sama seperti jika saya berpikir-pikir, kenapa saya mesti pergi ke pura? Atau apa yang dapat saya pergi ke pura.
Ada memang orang-orang yang cukup bodoh seperti saya contohnya, ada merasa tidak perlu ke pura maka dia tidak ke pura, ada yang merasa ia tidak perlu makan daging maka ia menjadi vegetarian, ada yang merasa tidak perlu menaruh kepercayaan pada Tuhan maka ia menjadi atheis, walau semua itu sekadar sebutan.

Bukan berarti saya tidak pernah ke tempat yang bernama pura sama sekali, namun tidak pergi ke sana sebagaimana pengertian umum. Mungkin saya sudah pernah ceritakan sebelumnya (atau belum ya?), saya pernah pergi ke Pura di Banguntapan, ketika itu bukanlah hari-hari besar atau perayaan agama Hindu, hanya hari-hari biasa mungkin seperti hari ini. Saya pergi ke sana pada sebuah sore yang sejuk.
Pura di Banguntapan masih dalam pemugaran saat itu, candi bentar yang ada di luar masih pagari dengan tiang-tiang bambu untuk penyelesaiannya. Saya memasuki pura dan melihat beberapa orang sudah ada di sana, dua orang dewasa dengan seorang anak kecil, dan dua remaja laki-laki dan perempuan duduk pada masing-masing tikar mereka dengan dupa yang sudah menyala di hadapannya. Mereka tampak khusyuk berdoa dan bersembah di dalam pura, sementara saya mengambil tikar, dan duduk bersimpuh di posisi agak ke belakang (saya harap tidak mengganggu mereka saat itu).

Saya mengamati suasana sekitar, termasuk orang-orang yang ada di sana, tanaman-tanaman, lingkungan pura, serta langit yang terbuka lebar. Saya melihat atau mungkin "menyentuh" suatu "kelembutan" secara seketika, dan segala sesuatunya menjadi begitu "tenang" serta "damai", saya tak dapat mengatakan, karena itu tidak ada dalam perbendaharaan kata-kata saya. Sepanjang saat saya terduduk di sana, hal ini selalu hadir, walau sekejap bisa hilang oleh loncatan-loncatan pikiran.

Ketika uluran tangan si ingatan memasuki saat-saat seperti ini, saya menjadi tahu bahwa hal serupa selalu saya jumpai di berbagai tempat, "kelembutan" yang serupa. Ketika saya bersandar di sudut kamar, ketika saya berjalan di halaman, ketika menggosok gigi di pagi hari, ketika berjongkok mencuci setumpuk piring, ketika mengendara motor secara pelan di dusun-dusung Pogung atau memacunya hingga pedal gas penuh sepanjang jalan antar provinsi. Ketika ingatan berbisik, ia yang juga saya, berbicara bahwa hal ini tidaklah berbeda, ya…, "kelembutan" yang serupa.

Ke mana pun saya pergi, di mana pun saya singgah, ketika hadir suatu rasa awas akan lingkungan akan diri saya, maka seketika itu seluruh dunia akan menjadi suatu "kelembutan" yang menakjubkan. Jadi baik di pura atau pun tidak di pura, baik ketika sedang menghaturkan canang sari atau pun sedang menghitung koleksi uang logam receh.  Ketika saya menyadari secara esensial dalam seketika seluruh dunia ini tak jauh berbeda sedemikian halnya juga diri saya, maka saya belajar untuk menjadi esensial saja.

Sehingga mengapa saya tidak pergi ke pura, mungkin karena saya tidak bisa menemukan alasan mengapa saya harus pergi ke pura? Orang-orang pergi ke Pura mengapa? Jika untuk mencari rasa damai dalam hidup ini, saya melihatnya berserakan di mana-mana, tinggal pungut saja atau mau dibuang, mengapa harus ke Pura, ya saya jadi kebingungan sendiri kalau bertanya-tanya seperti ini. Jika untuk menghaturkan rasa terima kasih kepada Sang Pencipta, lalu siapakah sang pencipta? Apakah ia yang terbangun dalam kantung-kantung ingatan yang kita serap dari berbagai naskah dan wacana? Maka jika ia apa yang kita kenal dari semua bentuk itu, ia menjadi sebentuk karya batin, karya pikiran, dan pikiran pun menjadi sama aslinya dengan ketidaktahuan yang bersembunyi di balik kepercayaan.

Namun saya sendiri telah lama berhenti untuk berusaha percaya, bukan karena saya seorang akademis, namun saya menemukan kepercayaan hanyalah sebatas kepercayaan. Orang bilang dari pada mabuk minuman-minuman keras, lebih baik mabuk Tuhan. Namun saya pun tak mengerti kedua hal itu sama saja, sama-sama menjadi tidak essensial bagi saya. Setiap orang memiliki kecenderungannya sendiri, dan kecenderungan ini melahirkan ikatan-ikatan akan hal-hal yang tidak esensial.

Semisal suatu sore tetangga saya datang ke kamar saya dan berkata, "Ayo kita ke Pura, hari ini Purnama lho.", lalu saya menjawab, "Ah…, ngapain sih, ga ada apa-apa juga, mendingan online nih, seru…" Dan dia membalas, "Alah…, terserah loe saja, kualat nanti baru tahu rasa."

Ketika saya, atau siapa saja memiliki kecenderungan, maka saya atau siapa saja menjadi terikat akan sesuatu secara konseptual, membenarkan sesuatu itu, dan kemudian mengikutinya. Hidup saya menjadi sedemikian rupa, terikat pada konsepsi-konsepsi yang saya hasilkan sendiri. Maka saya tidak menyentuh kehidupan sendirinya secara utuh, karena saya berada dalam bayangan konsepsi, bayangan ingatan. Maka saya melihat ini begitu menyedihkan, kembali saya harus menjadi awas, apakah saya sedang menyampaikan konsepsi ataukah aktualita.
Saya sendiri tak akan pernah tahu apakah saya tidak pergi ke pura dalam pemaknaan umum sebagai suatu konsep ataukah fakta, namun ketika saya menjadi sadar bahwa ke pura dalam pemaknaan umum tidak membawa saya ke mana pun kecuali bentuk kecenderungan lainnya, maka saya menolaknya, dan itu adalah fakta.