Pedoman Teknis Bangunan dan Prasarana FKTP dalam Upaya PPI – Kewaspadaan Airborne

Bangunan dan Prasarana Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) perlu didesain sedemikian hingga agar dapat membantu pencegahan penyebaran infeksi melalui udara (airborne), sedemikian hingga membantu pelayanan kesehatan yang lebih aman bagi pengunjung dan staf.

Buku yang diterbitkan oleh Kemenkes RI pada tahun 2014, ” Pedoman teknis bangunan dan prasarana fasilitas Pelayanan kesehatan tingkat pertama untuk mencegah infeksi Yang ditransmisikan melalui udara (airbone infection)” memberikan detail jelas mengenai permasalahan ini.

Buku ini sebenarnya ditujukan untuk menanggulangi potensi penyebaran tuberkulosis (TB) di FKTP, namun pada situasi pandemi COVID-19 seperti ini, saya rasa layak untuk dirujuk kembali.

Bagi yang hendak mendapatkan salinannya, bisa diunduh melalui tautan ini.

Triase untuk Staf Non-Medis di Puskesmas atau Klinik

Pelaksanaan pelayanan kesehatan di Puskesmas atau Klinik, yang dikenal sebagai fasilitas pelayanan kesehatan pertama/dasar, sering kali mengalami benturan keterbatasan tenaga staf medis (dokter, dan dokter gigi). Kebanyakan adalah staf klinis non-medis, atau bahkan staf non-klinis dalam 24 jam operasional puskesmas atau klinik yang menyediakan layanan UGD (Unit Gawat Darurat) 24 jam.

Dan pasien di Indonesia belum banyak yang mengenal, apakah mereka harus mengunjungi poliklinik rawat jalan, UGD Puskesmas/Klinik, atau IGD Rumah Sakit untuk keluhan mereka. Atau banyak yang berpikir, kalau ke UGD tidak perlu antri, sehingga sering kali menjadi beban kesehatan yang tidak pada tempatnya, dan penanganan justru sering tertunda.

Lanjutkan membaca “Triase untuk Staf Non-Medis di Puskesmas atau Klinik”

Pelaksanaan Teknis Surveilans Gizi

Ada banyak kebijakan dan kegiatan dalam peningkatan gizi masyarakat yang harus kita kejar keberhasilan, atau juga ada banyak tujuan pembenahan status gizi masyarakat yang ingin kita capai – pemberantasan stunting misalnya. Namun untuk bisa melakukan semua itu, salah satu pilar yang harus bisa tegak dengan baik adalah surveilans gizi. Seluruh pengambilan keputusan dan penyusunan kebijakan perbaikan gizi berpatokan pada hasil surveilans gizi.

Tapi bagaimana melakukan surveilans gizi? Sudahkah tenaga kesehatan terkait mampu melakukannya dengan baik?

Misalnya, apa saja indikator masalah gizi di masyarakat? Bagaimana kita bisa melihat bahwa indikator kinerja program gizi kita telah baik? Lalu bagiamana surveilans gizi yang sesuai standar, baik itu di Posyandu, Puskesmas, maupun Rumah Sakit? Lanjutkan membaca “Pelaksanaan Teknis Surveilans Gizi”

Menyusun SOP untuk Puskesmas

Saya kadang tergelitik antara standar yang diterapkan di antara Puskesmas dan Rumah Sakit. Barangnya bernama Standard Operating Precedure (SOP), yang jika di Puskesmas menjadi Standar Operasional Prosedur (SOP) demi mengikuti istilah dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2017 tentang Tata Naskah Dinas di Lingkungan Menteri Kesehatan. Sementara di Rumah Sakit disebut sebagai Standar Prosedur Operasional (SPO), sesuai dengan arahan dari Komite Akreditasi Rumah Sakit (KARS).

Namun di luar hal-hal di atas, kembali pada SOP di Puskesmas. Banyak yang masih belum memiliki standar bentuk SOP itu sendiri. Saya sendiri hampir belum pernah menemukan tata naskah untuk ini. Bukan berarti tidak ada, hanya saya belum pernah melihatnya sendiri secara langsung.

Lanjutkan membaca “Menyusun SOP untuk Puskesmas”

Batuk Pun Beretika

Salah satu etika yang berlaku seputar kesehatan dan higienitas adalah “etika batuk”. Batuk adalah satu mekanisme yang dapat melepas kuman/patogen ke lingkungan dari seorang penderita sakit, misalnya saja tuberkulosis. Sedemikian hingga, etika batuk diterapkan untuk melindungi lingkungan akar tetap sehat, dan mencegah penularan penyakit lewat udara.

Jika Anda berkunjung ke pusat-pusat layanan kesehatan seperti Puskesmas atau rumah sakit, saat ini akan sangat mudah menemukan poster-poster terkait dengan etika batuk.

Sejumlah etika yang layak diterapkan saat batuk adalah:

  • Mengenakan masker, dan ini bersifat sekali pakai. Jangan menggunakan masker bekas atau bolak balik. Masker dibuang saat kotor atau setelah selesai digunakan pada tempat sampah tertutup.
  • Batuk dengan memalingkan wajah dari lawan bicara. Cukup diingat, jangan batuk ke arah orang lain.
  • Tutup hidung dan mulut dengan tisu (pilihan utama) atau lengan baju bagian dalam (pilihan terpaksa). Jangan menggunakan tangan untuk menutup hidung dan mulut, karena kuman bisa menempel pada tangan. Jadi selalu ingat untuk membawa tisu ke mana pun saat batuk, dan buang tisu habis pakai ke tempat sampah tertutup.
  • Cuci tangan dengan air mengalir dan sabun setelah batuk. Ini adalah standar higienitas yang tidak boleh dilalaikan.

Jika Anda merasa bahwa batuk selalu berkelanjutan dan belum membaik walau sudah membeli obat bebas, over the counter drugs, atau bahasa kerennya obat warung. Maka segera periksa ke Puskesmas terdekat.

Dan terakhir tetaplah menjaga kesehatan dengan baik.

Tulisan ini dimuat dalam menyambut hari Tuberkulosis yang jatuh pada tanggal 24 Maret.

Tata Laksana Kandidiasis Mulut

Kandidiasis mulut merupakan salah satu infeksi jamur pada manusia yang disebabkan oleh Candida albicans. Selain mukosa mulut, jamur ini juga bisa menyerang kulit dan organ lain (Mboi, 2014). Bayi juga bisa menderita infeksi ini, dan tertular saat proses dilahirkan, atau karena menggunakan dot bayi yang tidak higienis.

Candida albicans merupakan salah satu flora normal pada tubuh manusia dan dikenal sebagai “flora yang bermanfaat, ketika terjadi ketidakseimbangan, maka akan menyebabkan pertumbuhan berlebih Candida albicans yang dikenal sebagai kandidiasis (Singh, Verma, Murari, & Agrawal, 2014).

Keluhan utama penderita umumnya adalah mulut yang terasa gatal dan juga perih, terdapat kecapan sensasi/rasa logam, dan daya kecap secara umum mengalami penurunan. Mereka yang menderita penurunan daya tahan tubuh (imunodefisiensi) memiliki faktor risiko untuk terkena kandidiasis. Bahkan kandidiasis mulut juga digunakan sebagai kunci pada lesi mulut terkait HIV, dan menjadi penanda kecurigaan awal adanya infeksi HIV – karena penderita HIV mengalami penurunan daya tahan tubuh. Meskipun konsep ini masih menjadi perdebatan oleh karena tersedianya terapi antiretroviral yang sangat aktif (HAART) sehingga muncul pertanyaan apakah layak masih digunakan sebagai penanda bagi pasien yang sudah menjalani terapi; setidaknya kandidiasis sebagai penanda HIV masih cukup banyak digunakan saat ini (Patton et al., 2013).

Pada pemeriksaan fisik, akan ditemukan bercak merah dengan maserasi di daerah sekitar mulut, di lipatan (intertriginosa) dengan adanya bercak merah yang terpisah di sekitarnya. Dapat juga hadir sebagai plak-plak keputihan yang sering bisa dihapus, yang kemudian meninggalkan sisa area kemerahan yang dapat sedikit berdarah. Plak-plak ini bisa juga diselaputi oleh membran palsu (psudomembran) di sekitar mukosa mulut.

Plak keputihan ini dapat diambil karena merupakan ragi jamur, dan dapat diamati secara sederhana di bawah mikroskop dengan bantuan pelarut KOH 10%, atau dilihat setelah melakukan pewarnaan Gram. Tentu saja terdapat pemeriksaan lain yang bisa digunakan seperti kultur, hingga pemeriksaan imunologi dan genetis seperti ELISA dan PCR (Coronado-Castellote & Jim??nez-Soriano, 2013), namun pemeriksaan standar sudah cukup membantu dokter di layanan kesehatan primer.

Lanjutkan membaca “Tata Laksana Kandidiasis Mulut”

Tata Laksana Omfalitis pada Neonatus

Tali pusat pada bayi yang baru lahir umumnya akan lepas setelah satu hingga tiga pekan sampai luka sembuh dengan baik. Mekanisme pemisahan ini melibatkan proses nekrosis, invasi granulosit, infarks, pengeringan, dan aktivitas kolangenasis. Pada hari kedua kehidupan, biasanya muncul sel-sel polimorfonuklear dan bakteri pada umbilikus. Sel-sel ini memainkan peran yang sama dalam pemisahan tali pusat, dan pemisahan bisa tertunda jika terdapat ketidaksempurnaan pada sel-sel ini.

Tali pusat biasanya dikolonisasi oleh organisme yang berasal dari vagina (saat persalinan) dan tangan perawat bayi. Organisme yang paling umum ditemukan di antaranya adalah Stafilokokus aureus dan epidermidis, Streptokokus pyogen, Streptokokus grup B, organisme gram negatif, dan kadang muncul tetanus.

Infeksi wilayah tali pusat dan sekitarnya atau omfalitis merupakan salah satu penyebab paling umum morbiditas dan mortalitas pada neonatus. Oleh karena itu, infeksi tali pusat atau jaringan kulit di sekitar perlu dikenali secara dini dalam rangka mencegah sepsis, terutama jika terdapat faktor predisposisi seperti pemotongan dan perawatan tali pusat yang tidak steril (Mboi, 2014). Lanjutkan membaca “Tata Laksana Omfalitis pada Neonatus”

Permenkes nomor 44 tahun 2016 tentang Pedoman Manajemen Puskesmas

Pada akhir tahun 2016, kementerian kesehatan menerbitkan salah satu pedoman dalam tata kelola puskesmas. Peraturan Menteri Kesehatan nomor 44 tahun 2016 tentang Pedoman Manajemen Puskesmas akan memberikan pedoman bagi puskesmas dalam menyusun rencana lima tahunan, menggerakkan pelaksanaan upaya kesehatan, melaksanakan pengawasan-pengendalian dan penilaian kinerja, mengelola sumber daya, serta menerapkan pola kepemimpinan dan membangun budaya kerja.

Lanjutkan membaca “Permenkes nomor 44 tahun 2016 tentang Pedoman Manajemen Puskesmas”

Permenkes nomor 23 tahun 2016 tentang Pemberian Penghargaan bagi Nakes Teladan

Tenaga Kesehatan Teladan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan/atau keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan yang memiliki pengabdian dan prestasi dalam pembangunan bidang kesehatan.

Peraturan Menteri kesehatan Nomor 23 Tahun 2016 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pemberian Penghargaan Bagi Tenaga Kesehatan Teladan di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) merupakan pedoman bagi Kementerian Kesehatan, Dinas Kesehatan Provinsi, Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, Puskesmas, dan pemangku kepentingan lainnya dalam memberikan penghargaan bagi Tenaga Kesehatan Teladan di Puskesmas.


Lanjutkan membaca “Permenkes nomor 23 tahun 2016 tentang Pemberian Penghargaan bagi Nakes Teladan”

Asuransi Mana yang Digunakan untuk Kecelakaan Lalu Lintas?

Tentu saja kita tidak mengharapkan adanya kecelakaan lalu lintas. Tapi sesuatu yang tidak dapat diduga sebelumnya merupakan hal yang harus dapat kita rencanakan bagaimana menghadapinya. Asuransi merupakan salah satu cara untuk mengalihkan pembebanan terhadap pelbagai biaya yang diakibatkan oleh kecelakaan di perjalanan. Jadi kita akan melihat secara sederhana, asuransi mana yang akan digunakan kebanyakan orang saat mengalami kecelakaan lalu lintas. Lanjutkan membaca “Asuransi Mana yang Digunakan untuk Kecelakaan Lalu Lintas?”