Elysium – Gambaran Jurang Sosial

Elysium keluaran TriStar Pictures berkisah tentang dunia masa depan, ketika bumi sudah tidak bisa dihuni secara layak lagi, masyarakat kaya membangun kehidupan mewahnya di sebuah stasiun luar angkasa dengan ekosistem yang menyerupai bumi. Golongan kelas atas adalah pemilik modal yang hidup mewah, sementara yang tertinggal di bumi adalah golongan miskin dan pekerja kasar, yang bahkan tidak memiliki cukup akses kesehatan.

Kesan saya pada film ini seperti menonton District 9, mungkin karena sutradaranya memang sama. Tapi sejujurnya saya tidak penggunaan latar seperti ini bukan sesuatu yang saya suka, karena membuat sakit kepala saat menontonnya di layar lebar. Mungkin saya salah menonton film, yang saya pikir lebih mirip seperti Oblivion. Continue reading →

Iklan

Pencerah Nusantara – Panggilan Bagi Tenaga dan Pemerhati Kesehatan untuk Bangsa

Tidak sengaja ketika saya mengunjungi tulisan psikolog Sekarum – “Meredifinisikan Mimpi“. Saya menemukan tentang Pencerah Nusantara, sebuah gerakan yang menyerupai Indonesia Mengajar.

Pencerah Nusantara adalah suatu gerakan berdasarkan semangat untuk mewujudkan kesehatan sebagai hak asasi fundamental bagi seluruh warga negara Indonesia. Banyak masalah kesehatan di negeri ini yang perlu dibenahi, tapi apa yang dapat kita lakukan bersama sebagai suatu bangsa?

Setidaknya demikian yang saya kutip dari situs resminya. Continue reading →

Di Bawah Separuh Langit

Setiap orang memiliki masalah dan kesulitan dalam hidupnya, kecuali mungkin Anda lahir dengan keberuntungan tak terbatas – maka Anda dapat hidup di luar semua masalah yang dialami orang lain. Beruntunglah bagi orang yang mampu mengatasi masalahnya, dan lebih beruntung juga jika mereka dapat membantu orang lain mengatasi masalah mereka.

Terutama kaum perempuan, memiliki masalah sendiri. Siang ini, Dhea mengingatkan saya akan sebuah video lawas tentang bagaimana masa depan dari seorang anak gadis yang hidup di dalam kemiskinan bukan lagi berada dalam kontrolnya. Dan kemudian rantai kemalangan akan dimulai di sana, padanya dan pada seluruh dunia. Continue reading →

Tanah, Leluhur dan Dewata

Sore itu senja menggantung di antara rerimbunan nyiur yang membelah persawahan luas, Nang Olog baru tiba di gubuk kecilnya setelah usai memandikan dua sapinya sehabis menggarap sawah. Peluh mengucur pelan dari rambut-rambutnya yang telah memutih, di antara kulit-kulitnya yang telah lama mengeriput. Sesekali ia meneguk air putih dari sebuah botol bekas air mineral yang sudah tampak kumuh dan lusuh, meski tak selusuh bajunya yang dipenuhi noda lumpur dan mungkin beberapa cipratan getah pohon dan entah apa lagi yang didapatkannya dari seumur hidup sebagai tani.

Perhatian Nang Olog asyik kelebatan burung kokokan putih yang mulai meninggalkan tanah-tanah basah berlumpur pada petak-petak yang sebentar lagi tertanam padi, hingga tiba-tiba saja perhatian itu teralihkan.

Continue reading →

Si Vis Pacem, Para Bellum

Dalam bahasa latin, ungkapan “si vis pacem, para bellum” bermakna “jika kamu menghendaki perdamaian, maka bersiaplah untuk berperang”. Salah satu slogan yang cukup terkenal dan dipakai serta dimodifikasi oleh banyak pihak lainnya, termasuk pada era Napoleon Bonaparte hingga ke perang dunia II.

Ungkapan tersebut menyiratkan bahwa subjek yang memiliki kekuatan lebih, dan memiliki persiapan untuk bisa berperang akan memiliki kencenderungan yang lebih sedikit diserang oleh subjek lainnya. Seperti singa di belantara Afrika, hewan mana yang cukup berani mengganggu kedamaian mereka.

Continue reading →

Patah Hati itu Menyakitkan?

Jika ditolak, tentu saja itu menyakitkan. Setidaknya demikianlah yang ditunjukkan oleh penelitian baru-baru ini bahwa sakit karena kondisi fisik dan sakit karena penolakan bisa jadi “menyakitkan” dengan cara yang serupa.

Para peneliti menemukan bahwa nyeri fisik dan sakit emosional yang mendalam, seperti perasaan penolakan pasca patah hati atau putus hubungan, mengaktifkan jalur pemrosesan “nyeri” yang sama di otak. Ini bisa jadi memberikan ide baru tentang sakit yang dialami ketika mendapatkan penolakan sosial.

Continue reading →