Mewaspadai Kembali Leptospirosis

Beberapa saat pasca hujan, badai, atau banjir, maka setiap tenaga kesehatan selayaknya mewaspadai bahaya infeksi leptospirosis. Leptospirosis sampai saat ini masih minim data, karena keberadaannya sering tidak terdiagnosis dengan baik, serta belum adanya data surveilans yang memadai. Setidaknya secara global ada sekitar 300.000 – 500.000 kasus leptospirosis yang berat1.

Leptospirosis adalah penyakit bakteri yang menyerang manusia dan hewan. Ini disebabkan oleh bakteri dari genus Leptospira. Pada manusia, dapat menyebabkan pelbagai gejala, beberapa di antaranya mungkin keliru dikenali sebagai gejala penyakit lain. Atau, mereka yang terinfeksi mungkin tidak tampak memiliki gejala sama sekali.

Ilustrasi Banjir. Sumber: abc.net.au.

Continue reading →

Iklan

Jangan Meremehkan Influenza

Musim hujan seperti sudah datang mendekat lagi tahun ini, perubahan cuaca sudah mulai terasa. Dan banyak kasus batuk pilek sederhana mulai menunjukkan peningkatan, meski batuk pilek (common cold) berbeda dengan flu (influenza), bukan tidak mungkin kita harus mempersiapkan diri untuk menghadapi wabah influenza.

Gejala sederhana bisa ditunjukkan seperti demam (kadang hingga meriang), batuk, nyeri otot (pegal linu), nyeri tenggorokan, pusing (sakit kepala), pilek atau hidung tersumbat, kelelahan – semuanya merupakan gejala paling umum flu. Mungkin beberapa orang juga akan mengalami gejala yang lebih berat seperti diare, mual dan muntah hingga penurunan nafsu makan.

Continue reading →

Memahami Surveilans Polio

Eradikasi polio merupakan salah satu target dunia kesehatan secara global. Di seluruh dunia, upaya memberantas penyakit polio senantiasa bergulir. Salah satu penyokong upaya ini adalah kegiatan surveilans polio. Tapi bagaimana surveilans polio dilakukan?

Sistem surveilans polio dimulai dari menemukan kasus kejadian lumpuh layuh yang mendadak (acute placid paralysis).

Kasus lumpuh layuh yang mendadak ini ditemukan melalui kerja sama antara tenaga kesehatan, petugas surveilans, kader kesehatan hingga setiap warga yang diajak bekerja sama dalam menjaring kasus-kasus lumpuh layuh. Walau tidak semua kasus lumpuh layuh disebabkan oleh polio, tapi penemuannya akan mempersempit kemungkinan kita melewatkannya.

Petugas surveilans akan mendata temuan kasus, jika perlu mengambil sampel tinja anak yang menderita lumpuh layuh tersebut dengan wadah yang sudah terstandar. Sampel tinja ini akan dikirim ke laboratorium nasional yang tersertifikasi oleh WHO untuk melakukan uji kuman polio.

Kebanyakan hasil uji memang tidak menunjukkan kasus polio. Apalagi di sejumlah daerah di Indonesia yang sudah lama bebas polio. Namun tidak demikian adanya secara global, temuan kasus polio masih ada.

Oleh ahli epidemiologi, data temuan kasus ini kemudian diolah sedemikian hingga pemangku kebijakan kesehatan dapat melihat tren kasus, seperti tempat kejadian, potensi wabah, faktor risiko penyebaran, dan oran-orang yang paling berisiko terinfeksi jika penyebaran wabah terjadi. Ini akan memberikan informasi guna menyiapkan cara terbaik dalam menghentikan penyebaran virus.

Tim khusus bisa didatangkan pada daerah yang terjadi kasus positif polio. Sampel lingkungan bisa jadi dambil untuk menentukan apakah terdapat virus polio liar. Jika ada, agar bisa dilakukan tindakan pecegahan sehingga anak-anak lain terhindar dari terjangkit polio.

Secara global, seluruh dunia bersama WHO saling bekerja sama dalam melakukan surveilans polio. Sehinga jika pun ada kasus polio, bisa dicegah sehingga tidak melewai batas antar negara. Dan jika seandainya melewati batas antar negara, dapat ditemukan dan dieradikasi.

Vaksinasi polio merupakan salah satu metode eradikasi polio yang paling utama, dan merupakan hak asasi setiap anak. Sedemikian hingga anak terlindung dari infeksi polio. Setiap orang tidak boleh merebut hak asasi ini.

Vaksinasi layaknya mencapai setiap anak di manapun di seluruh belahan bumi.

Kita semua harus waspada, karena satu saja kejadian polio sudah bisa dikatakan sebagai kasus kejadian luar biasa (KLB) yang berpotensi menjadi wabah.

Empat Rantai Surveilans AFP

Kegiatan surveilans menjadi tulang punggung dalam upaya pemberantasan polio di semua negara di dunia. Tanpa adanya surveilans, tidak akan mungkin menunjuk di mana dan bagaimana penyebaran serta peredaran virus polio liar, atau memastikan ketika virus sudah dimusnahkan dari alam liar. Surveilans mengidentifikasi kasus-kasus baru, dan mendeteksi datangnya/tibanya polio liar di suatu wilayah.

Continue reading →

Permenkes Nomor 53 Tahun 2015 Tentang Penanggulangan Hepatitis Virus

Hepatitis Virus merupakan salah satu penyakit menular yang menjadi masalah kesehatan masyarakat, yang berpengaruh terhadap angka kesakitan, angka kematian, status kesehatan masyarakat, angka harapan hidup, dan dampak sosial ekonomi lainnya. Besaran masalah Hepatitis Virus di Indonesia dapat diketahui dari berbagai hasil studi, kajian, maupun kegiatan pengamatan penyakit. Menurut Riskesdas tahun 2007, didapatkan hasil prevalensi HBsAg sebesar 9,4% dan prevalensi Hepatitis C 2,08%, sehingga apabila diestimasi secara kasar maka saat ini terdapat 28 juta orang terinfeksi Hepatitis B dan/atau Hepatitis C. Dari jumlah tersebut 50% akan menjadi kronis (14 juta), dan 10% dari jumlah yang kronis tersebut berpotensi untuk menjadi sirosis hati dan kanker hati primer (1,4juta).

Sedangkan untuk Hepatitis A dan Hepatitis E, besaran masalah tidak diketahui dengan pasti. Namun mengingat kondisi sanitasi lingkungan, higiene dan sanitasi pangan, serta perilaku hidup bersih dan sehat yang belum optimal, maka masyarakat Indonesia merupakan kelompok berisiko untuk tertular Hepatitis A dan Hepatitis E. Laporan yang diterima oleh Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa setiap tahun selalu terjadi KLB Hepatitis A, sedangkan untuk Hepatitis E jarang dilaporkan di Indonesia.

Continue reading →