Kombinasi Helium dan Nitrux pada KDE openSUSE

Saya merasa sudah cukup dengan kombinasi warna gelap dan monokromatik yang saya gunakan sebelumnya pada dekstop KDE openSUSE. Sekarang ingin sesuatu yang berwarna lebih cerah; pekerjaan dengan waktu yang meningkat di depan komputer membuat warna-warna cerah bisa membantu membuat betah – setidaknya bagi saya.

Saya mencoba mengeksplorasi sejumlah setelan dan eye candy untuk KDE, sampai akhirnya tiba pada kombinasi antara Helium dan Nitrux yang saya terapkan pada dekstop yang saya gunakan. Lanjutkan membaca “Kombinasi Helium dan Nitrux pada KDE openSUSE”

Gnome 3.10 tampak Memikat

Sudah lama saya tidak menggunakan Gnome Shell karena setahun ini mencoba menggunakan Ubuntu dengan Unity-nya. Ubuntu memang menawarkan banyak kemudahan, bisa dibilang tidak membuat banyak pusing ketika digunakan. Saya bahkan tidak mengikuti perkembangan Linux, karena rasanya sudah nyaman dengan Unity, tidak menyangka banyak yang baru di luar sana. Saya melirik kembali Shell kegemaran saya, yaitu Gnome Shell yang sekarang sudah pada sampai pada versi dekstop Gnome 3.10.

Ada banyak fitur baru yang menarik di Gnome 3.10 dibandingkan apa yang saya gunakan sekitar setahun yang lalu. Bahkan tidak ada lagi ikon-ikon yang tampak bodoh dan jumbo. Semuanya tampak rapi (meskipun saya tidak tahu pasti resolusi layar yang digunakan), dan bisa saja ini menjadi bujukan bagi saya untuk keluar dari zona nyaman. Lanjutkan membaca “Gnome 3.10 tampak Memikat”

Jolicloud DE pada Ubuntu 13.04

Salah satu distro Linux favorit saya Joli OS, kini hadir dalam kemampuan Jolidrive-nya melalui Jolicloud Desktop Environment (JDE) di Ubuntu, dan sudah bisa dicoba pada Ubuntu 13.04 Raring Ringtail yang saya gunakan. Ini adalah satu lingkungan kerja berbasis komputasi awan yang paling populer saat ini. Mungkin karena Joli OS lawas yang berbasis Ubuntu lawas sudah tidak bisa digunakan di banyak tempat, maka sebuah opsi memindahkan sistem/lingkungan Jolidrive ke distro stabil seperti Ubuntu teranyar menjadi solusi yang dianggap cukup baik.

JDE ini masih merupakan uji coba pada Raring Ringtail, namun sudah bisa digunakan pada dua versi Ubuntu sebelumnya. Dulu saya sempat mau mencoba memasang Joli OS 1.2 pada Asus X201E yang saya punya, namun sayang, sistem operasi itu terlalu lawas untuk dapat berjalan pada mesin baru – walau pun harus diakui salah satu nilai lebihnya adalah membuat mesin lama berjalan dengan sangat baik dan tampak modern. Lanjutkan membaca “Jolicloud DE pada Ubuntu 13.04”

Manvahana dengan Tampilan dan Fitur Baru

Sudah lama sekali tidak disentuh, Manvaha menjadi sedikit berdebu. Memang blog asali saya ini sedari awal tidak ditujukan untuk terlalu sering disentuh, ditulis dalam bahasa Inggris sering kali memerlukan momen tersendiri untuk mengisinya. Sehingga saya melakukan beberapa perubahan pada blog ini, untuk kenyamanan saya dan para pembacanya.

Ada beberapa fitur yang dikurangi, dulu Manvahana mendukung fitur Odiogo,  yang membuat Manvahana tidak hanya bisa dibaca, namun juga didengarkan melalui iTunes (Mac OS, iOS), Banshee (Linux) dan pelbagai perangkat penerima siaran podcasting lainnya. Bagi yang masih ingin mendengarkan Manvahana dalam berkas suara (MP3), maka tulisannya dapat didengarkan di halaman ini. Beberapa berkas lawas akan tersedia dengan baik, dan tulisan baru akan tetap dialihkan ke bentuk suara sampai beberapa waktu ke depan; sehingga bagi yang sudah berlangganan berkas suara, tidak perlu khawatir akan kehilangan pembaruan. Lanjutkan membaca “Manvahana dengan Tampilan dan Fitur Baru”

Faience Ocre untuk Raring Ringtail

Satu hal yang selalu saya ganti saat memasang Ubuntu adalah temanya. Saya bukan penggemar Ambience yang digunakan oleh Ubuntu, golongan Faience atau Zutwiko mungkin lebih pas buat saya, padahal bedanya tidak begitu jauh, mereka hanya tampilan yang sering kita lihat sehari-hari.

Untuk Ubuntu 13.04 kali ini, saya memilih tema jendela dan ikon Faince Ocre yang memang cukup pas jendela kecil netbook yang saya gunakan. Sedangkan untuk ikon, saya memilih Faience Claire yang memang didesain untuk Unity. Lanjutkan membaca “Faience Ocre untuk Raring Ringtail”

Menyederhanakan Tampilan Blog di 2013

Menjelang akhir minggu ke-2 awal tahun 2013, saya melakukan sedikit perubahan pada penampilan blog ini. Seiring berubahnya penggunaan teknologi, dari era PC dan netbook beralih ke penggunaan ponsel cerdas dan komputer tablet, maka saya melakukan sedikit pendekatan ke arah tersebut. Sedemikian hingga blog ini menjadi cukup ramah diakses pada perangkat-perangkat tersebut.

Jadi saya meminjam tema Clean Retina dari koleksi tema WordPress konsep kaya fitur namun tetap sederhana. Karena saya tidak memiliki banyak kemewahan untuk mengolah kembali sumber kodenya, maka saya pun memanfaatkan sejumlah pengaya tambahan untuk menyelesaikan beberapa hal menyangkut kode-kode tersembunyi yang saya gunakan pada blog saya ini. Lanjutkan membaca “Menyederhanakan Tampilan Blog di 2013”

Mengembalikan Alamat Surel Asli pada Halaman Info Facebook

Beberapa waktu lalu, Facebook secara sepihak mengubah alamat email yang ditampilkan pada halaman info pemilik akun menjadi alamat email berdomain facebook.com, saya dengar ini disebabkan adanya kebijakan penyeragaman di Facebook. Sebenarnya ini adalah isu lawas, meskipun banyak yang protes karena menganggap Facebook melanggar privasi, namun sepertinya kebijakan ini tidak berubah.

Pada awalnya saya tidak terlalu peduli, namun hanya sedikit penasaran karena tidak jelas bagaimana sistem surel/email ini bekerja. Saya mendengar ada beberapa orang yang tidak pernah mendapatkan surel yang dikirimkan padanya melalui alamat surel yang disediakan oleh Facebook. Sehingga saya pun mencobanya beberapa waktu yang lalu. Lanjutkan membaca “Mengembalikan Alamat Surel Asli pada Halaman Info Facebook”

Desktop Yang Saya Gunakan

Jawabnya tentu openSUSE Tumbleweed edisi GNOME. Tapi kadang ada saja yang bertanya, “Yang kamu pakai itu seperti apa sih?” – tentunya kemudian saya tahu bahwa pertanyaan itu tidaklah mengherankan, karena lima atau enam tahun ke belakang saya mungkin akan menanyakan hal yang sama.

Apalagi setelah sambil sepotong-potong mendengarkan streaming kuliah kecil tentang open source dari ruang pertemuan PPTIK UGM, jadi saya banyak memikirkan kembali. Memang pada kenyataan masih banyak orang yang skeptis dengan menggunakan desktop Linux dalam kesehariannya; mungkin Linux terkesan dengan sulit dan paradigma yang mengerikan saat menggunakan baris perintah untuk mengoperasikannya. Jadi (banyak) orang lebih rela menjadi penjahat yang melanggar pembukaan UUD 1945 dengan melakukan pembajakan peranti lunak sebagai salah satu bentuk penjajahan dibandingkan menggunakan peranti lunak legal. Lanjutkan membaca “Desktop Yang Saya Gunakan”

Cinnamon untuk openSUSE Asparagus

Apakah Anda pernah berpikir bahwa tampilan Linux Mint terbaru yang berbasis GNOME 3 lumayan menarik? Mereka berhasil mencabangkan Gnome Shell ke dalam salah satu desktop khas – Cinnamon, yang memberikan sentuhan familier seperti ketika menggunakan GNOME 2.x. Tampilan ini kini juga bisa dicoba pada openSUSE 12.1 Asparagus.

Pada halaman openSUSE Lizards, ada berita “Cinnamon for openSUSE” tentang uji coba Cinnamon pada openSUSE. Meskipun baru dalam tahap uji coba, sepertinya sudah dapat menampilan Cinnamon seperti pada Linux Mint, meski masih terdapat beberapa isu terkait setelah antarmuka grafis.

Lanjutkan membaca “Cinnamon untuk openSUSE Asparagus”

OpenSUSE Asparagus Serasa Android 4.0

Ada banyak cara mempercantik tampilan desktop Gnome 3.2 pada openSUSE 12.1 Asparagus, setidaknya dengan membekali diri menggunakan Gnome Tweak Tool, semuanya akan mudah. Saya dan Anda dapat membuat Gnome Shell memiliki tampilan seperti Ubuntu dengan Ayatana-nya, atau seperti tampilan Android 4.0 Ice Cream Sandwich.

Dari sekian banyak cara, saya memilih untuk tidak mengutak-atik mutter yang dibawa oleh openSUSE tentunya. Alasannya sederhana, saya malas membongkar kembali markah CSS yang mengawal Gnome Shell, kecuali kalau Anda ahli dengan mengutak-atik CSS, maka dengan bersenjatakan gedit, tampilan Gnome Shell bisa disulap menjadi sesuai selera. Lanjutkan membaca “OpenSUSE Asparagus Serasa Android 4.0”