COVID-19

Sebagian besar orang sudah tahu, apa itu COVID-19. Tapi mari kita buat menjadi sederhana, padat dan jelas.

Penyakit Coronavirus (COVID-19) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus korona yang baru ditemukan.

Kebanyakan orang yang terinfeksi virus COVID-19 akan mengalami penyakit pernapasan ringan hingga sedang dan sembuh tanpa memerlukan perawatan khusus. Orang tua, dan mereka yang memiliki masalah medis seperti penyakit kardiovaskular, diabetes, penyakit pernapasan kronis, dan kanker lebih mungkin mengalami perkembangan ke arah penyakit atau kondisi yang lebih serius.

Photo by Miguel u00c1. Padriu00f1u00e1n on Pexels.com

Cara terbaik untuk mencegah dan memperlambat penularan adalah dengan mengetahui dengan baik tentang virus COVID-19, penyakit yang disebabkannya, dan bagaimana penyebarannya. Lindungi diri Anda dan orang lain dari infeksi dengan mencuci tangan atau menggunakan gosok berbasis alkohol sesering mungkin dan tidak menyentuh wajah Anda.

Virus COVID-19 menyebar terutama melalui tetesan air liur atau cairan dari hidung saat orang yang terinfeksi batuk atau bersin, jadi Anda juga harus mempraktikkan etika pernapasan (misalnya, dengan batuk ke siku yang tertekuk).

Saat ini, belum ada vaksin atau perawatan khusus untuk COVID-19. Namun, ada banyak uji klinis yang sedang berlangsung yang mengevaluasi pengobatan potensial.

Bagaimana kita bisa mencegahnya? Untuk mencegah infeksi dan memperlambat penularan COVID-19, lakukan hal berikut:

  • Cuci tangan Anda secara teratur dengan sabun dan air, atau bersihkan dengan antiseptik berbasis alkohol.
  • Jaga jarak setidaknya 1 meter antara Anda dan orang yang batuk atau bersin.
  • Hindari menyentuh wajah Anda.
  • Tutupi mulut dan hidung Anda saat batuk atau bersin.
  • Tetap di rumah jika Anda merasa tidak enak badan.
  • Menahan diri dari merokok dan aktivitas lain yang melemahkan paru-paru.
  • Berlatihlah menjaga jarak secara fisik dengan menghindari perjalanan yang tidak perlu dan menjauh dari sekelompok besar orang.

Sampai vaksin ditemukan, langkah-langkah di atas adalah cara terbaik dalam mencegah COVID-19. Jika Anda membaca atau mendengar metode lain selain langkah-langkah di atas, konsultasikan dengan ahli kesehatan atau dokter keluarga Anda, karena informasi tersebut bisa jadi keliru.

Tenaga kesehatan dan petugas terkait penanganan COVID-19 akan memiliki protokol yang berbeda dalam mencegah infeksi COVID-19 pada diri mereka, sesuai dengan protokol yang diterbitkan oleh instansi masing-masing.

Bagaimana dengan penggunaan masker? Penggunaan masker tidak mengganti langkah-langkah di atas. Penggunaan masker mencegah penularan dari orang yang sakit atau terinfeksi SARS-CoV-2 ke orang yang belum terinfeksi. Sehingga terdapat banyak faktor yang memengaruhi efektivitas masker dalam memperlambat laju pandemi/epidemi di dalam populasi. Seperti misalnya, kesadaran masyarakat, penularan dari penderita tak bergejala, pengurangan jumlah kontak langsung, dan peran anak-anak.

Poin terakhir bisa jadi berpotensi diabaikan oleh banyak orang. Anak-anak bisa terdampak COVID-19 sama seperti orang dewasa. Anak-anak yang tidak bergejala dapat berperan dalam penyebaran COVID-19 di dalam populasi. Pengumpulan anak-anak di suatu lokasi, seperti sekolah, berpotensi memicu penyebaran COVID-19 yang lebih cepat di populasi.

Bagaimana kita bisa mengenali bahwa itu COVID-19?

COVID-19 memengaruhi orang yang berbeda dengan cara yang berbeda. Kebanyakan orang yang terinfeksi akan mengembangkan penyakit ringan hingga sedang dan pulih tanpa dirawat di rumah sakit.

Gejala paling umum:

  • demam.
  • batuk kering.
  • kelelahan.

Gejala yang kurang umum:

  • sakit dan nyeri.
  • sakit tenggorokan.
  • diare.
  • konjungtivitis.
  • sakit kepala.
  • kehilangan pengindraan rasa atau bau.
  • ruam pada kulit, atau perubahan warna pada jari tangan atau kaki.

Gejala serius:

  • kesulitan bernapas atau sesak napas.
  • nyeri atau tekanan dada.
  • kehilangan bicara atau gerakan.

Cari pertolongan medis segera jika Anda mengalami gejala serius. Selalu hubungi sebelum mengunjungi dokter atau fasilitas kesehatan Anda.

Orang dengan gejala ringan yang sebenarnya sehat harus mengelola gejalanya di rumah. Orang dapat merawat dirinya sendiri apabila gejala cukup ringan, dengan tetap melakukan langkah-langkah di atas untuk menghindari penularan kepada anggota keluarga lain di rumah.

Rata-rata dibutuhkan waktu 5–6 hari sejak seseorang terinfeksi virus untuk menunjukkan gejala, namun dapat memakan waktu hingga 14 hari.

Apabila Anda curiga mengalami tanda dan gejala COVID-19, Anda bisa menghubungi petugas kesehatan terdekat, seperti klinik atau puskesmas terdekat.

Tanda, Gejala dan Pemeriksaan COVID-19

Manifestasi Klinis

COVID-19 memiliki masa inkubasi 1-14 hari, kebanyakan berjarak antara 3 hingga 7 hari. Gejala yang paling umum pada pasien kondisi ringan hingga sedang adalah demam, lelah, dan batuk kering, diikuti oleh gejala lainnya termasuk nyeri kepala, hidung tersumbat, nyeri tenggorokan, nyeri otot, dan nyeri sendi. Sejumlah kecil pasien memiliki gejala saluran cerna, seperti mual, muntah, dan diare, terutama pada anak-anak.

Pada sebuah penelitian dengan 1099 pasien COVID-19, 43,8% kasus menunjukkan demam pada saat onset (dimulainya) sakit dan persentase meningkat hingga 88,7% pasca rawat inap. Perlu dicatat bahwa demam dapat tidak muncul pada pasien lansia atau mereka yang memiliki kondisi penurunan daya tahan tubuh (immunocompromised).

Sebagian pasien dapat menunjukkan perburukkan kondisi berupa sesak napas, umumnya pada minggu sakit kedua, dan dapat dibarengi atau memburuk menjadi hipoksemia (kekurangan oksigen dalam peredaran darah). Lanjutkan membaca “Tanda, Gejala dan Pemeriksaan COVID-19”

Serangan Jantung

Serangan jantung adalah kedaruratan medis yang terjadi akibat terhalangnya pembuluh darah yang memasok darah untuk jantung. Pembuluh darah ini dikenal sebagai pembuluh darah koroner, dan permasalah pada pembuluh darah ini menimbulkan kelompok gangguan yang dikenal sebagai penyakit jantung koroner – yang merupakan penyebab paling umum serangan jantung.

Penyakit jantung koroner terjadi ketika pembuluh darah koroner menjadi semakin sempit dan mengurangi pasokan darah ke jantung. Penyakit jantung koroner dihubungkan dengan usia dan kondisi kesehatan yang berkepanjangan yang berdampak pada banyak orang.

Pembuluh darah koroner adalah  pembuluh-pembuluh darah seperti pipa yang sangat kecil yang memberi makanan melalui suplai darah ke jantung itu sendiri. Mereka menjadi sempit ketika bahan-bahan berlemak secara perlahan tertimbun di dalamnya dan membentuk sumbatan. Kondisi ini dapat mulai terjadi ketika Anda masih muda dan semakin memburuk memasuki usia paruh baya. Lanjutkan membaca “Serangan Jantung”

Sindrom Kelelahan Kronis

Di antara banyak masalah kesehatan, kelelahan merupakan salah satu keluhan yang acap disampaikan oleh pasien selain keluhan nyeri atau rasa tidak nyaman. Dan di antara semua jenis keluhan kelelahan, ada satu yang cukup spesifik, berat dan berlangsung menahun yang dikenal sebagai sindrom kelelahan kronis.

Dunia kedokteran tidak asing dengan istilah sindrom kelelahan kronis, yang dikenal juga sebagai kelelahan pasca infeksi virus, atau myalgik ensefalomielitis (ICD 10: G93.3 ; ICD 11: 8E49). Tapi tidak semua tenaga kesehatan dapat mengenali dan menangani kasus sindrom kelelahan kronis secara baik dikarenakan banyak faktor yang rumit, sedemikian hingga sindrom kelelahan kronis acap menjadi kondisi kesehatan yang terpinggirkan.

 

Ilustrasi “kelelahan”. Sumber: npr.org.

Lanjutkan membaca “Sindrom Kelelahan Kronis”

Tanda Peringatan Serangan Stroke

Stroke atau CVA adalah kondisi gawat darurat di mana pasokan oksigen dan makanan ke sejumlah bagian otak mengalami hambatan sehingga sel-sel otak mengalami gangguan, kerusakan, hingga kematian. Otak yang kaya akan sel-sel saraf akan mengalami kematian dengan cepat jika tidak ditanggulangi segera.

Sehingga jika Anda menemukan seseorang dengan tanda serangan stroke, maka segera bawa ke instalasi gawat darurat terdekat. Jika Anda yang mengalami tanda serangan stroke, maka segera hubungi ambulans 118. Karena kita tidak pernah tahu kapan kondisi itu akan memburuk, dan seberapa cepat perburukannya. Lanjutkan membaca “Tanda Peringatan Serangan Stroke”

Suara Bising Penyebab Ketulian

Jika seseorang terpapar suara yang bising dengan tingkat kebisingan dan dalam jangka waktu tertentu, maka orang tersebut dapat berpotensi mengalami ketulian. Ini dikenal sebagai tuli yang disebabkan bising atau NIHL. Hal ini terjadi ketika sel-sel rambut halus sebagai alat sensor suara di dalam telinga kita dirusak oleh paparan suara yang terlalu keras atau terlalu lama.

Volume maksimal headphone – misalnya – mencapai 105 dB, sekitar 100x suara bising (85 dB) di mana para pekerja mulai disarankan menggunakan pelindung telinga. Sehingga, mendengarkan musik keras-keras dari headphone meskipun hanya beberapa menit dapat meningkatkan potensi Anda mengalami hilangnya pendengaran/menjadi tuli. Lanjutkan membaca “Suara Bising Penyebab Ketulian”

Memahami Gejala HIV/AIDS

Infeksi HIV masih merupakan salah satu hal yang cukup mengkhawatirkan, penyebarannya cukup menyusahkan guna dilacak. Karena nyaris tanpa gejala, penderitanya pun tidak menyadari dan tidak melakukan deteksi dini.

Infeksi HIV dibagi ke dalam tiga tahapan/stadium, tahapan pertama disebut sebagai infeksi akut atau serokonversi, dan biasanya terjadi dua hingga enam minggu pasca paparan atau mulainya infeksi. Ini adalah masa ketika daya tahan tubuh melakukan perlawanan terhadap infeksi. Gejala awal yang dimunculkan begitu mirip dengan infeksi-infeksi virus pada umumnya, sebagai halnya flu, sehingga sulit disadari bahwa itu adalah HIV. Lanjutkan membaca “Memahami Gejala HIV/AIDS”

Demam Tifoid atau Tifus Abdominalis

Demam tifoid (typhoid fever) dikenal juga di Indonesia sebagai tifus abdominalis (dalam buku panduan pengobatan dasar Puskesmas yang diterbitkan oleh Departemen Kesehatan RI), yang mungkin istilahnya diserap dari bahasa Belanda tyfeus. Dan ini sering menjadi tumpang tindih dengan penyakit tifus/tipes yang diserap dari istilah typhus yang merujuk pada salah satu penyakit yang disebarkan oleh kutu dan lalat, atau oleh hewan lebih besar di sekitar rumah, seperti tikus dan kucing.

Karena sejumlah gejalanya agak serupa, maka saya selalu menggunakan istilah demam tifoid untuk merujuk penyakit yang disebabkan oleh Salmonella typhi ini, guna menghindari kesalahpahaman dimaknai sebagai tifus yang disebabkan oleh bakteri Rickettsia typhi dan Rickettsia prowazekii. Ada juga penyakit yang lebih ringan, para-tifoid sebutannya. Lanjutkan membaca “Demam Tifoid atau Tifus Abdominalis”

Gejala Fisik Depresi

Depresi memang dikatakan sebagai tekanan/gangguan mental, dan bisa jadi cukup serius. Depresi bukan hanya tentang perasaan “merasa tak berdaya/terbuang” atau “merasa mengambang tidak jelas” selama beberapa hari saja, namun menetap dan sulit untuk pergi, sehingga benar-benar mengganggu kehidupan penderitanya.

Dan selain mempengaruhi kondisi batin seseorang, depresi juga menimbulkan gejala-gejala yang tampak pada kehidupan fisiknya. Berikut adalah sedikit dari sejumlah gejala depresi yang dapat kita temukan dalam keseharian.

Lanjutkan membaca “Gejala Fisik Depresi”

Fakta dan Mitos Seputar Benjolan Payudara

Sekitar 40% wanita akan menemukan sebuah benjolan payudara pada suatu waktu di sepanjang hidupnya. Meskipun sebuah benjolan tidak selalu berarti kanker, namun apa yang dilakukan wanita setelah menemukan adanya benjolan itu dapat membuat perbedaan antara hidup dan mati.

Jadi, apa yang perlu kita ketahui tentang penemuan benjolan payudara? Berikut adalah fakta & mitos seputar benjolan payudara yang saya adaptasikan dari “Breast Lumps: 7 Myths and Facts”.

Lanjutkan membaca “Fakta dan Mitos Seputar Benjolan Payudara”