Pedoman Teknis Bangunan dan Prasarana FKTP dalam Upaya PPI – Kewaspadaan Airborne

Bangunan dan Prasarana Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) perlu didesain sedemikian hingga agar dapat membantu pencegahan penyebaran infeksi melalui udara (airborne), sedemikian hingga membantu pelayanan kesehatan yang lebih aman bagi pengunjung dan staf.

Buku yang diterbitkan oleh Kemenkes RI pada tahun 2014, ” Pedoman teknis bangunan dan prasarana fasilitas Pelayanan kesehatan tingkat pertama untuk mencegah infeksi Yang ditransmisikan melalui udara (airbone infection)” memberikan detail jelas mengenai permasalahan ini.

Buku ini sebenarnya ditujukan untuk menanggulangi potensi penyebaran tuberkulosis (TB) di FKTP, namun pada situasi pandemi COVID-19 seperti ini, saya rasa layak untuk dirujuk kembali.

Bagi yang hendak mendapatkan salinannya, bisa diunduh melalui tautan ini.

Batuk Pun Beretika

Salah satu etika yang berlaku seputar kesehatan dan higienitas adalah “etika batuk”. Batuk adalah satu mekanisme yang dapat melepas kuman/patogen ke lingkungan dari seorang penderita sakit, misalnya saja tuberkulosis. Sedemikian hingga, etika batuk diterapkan untuk melindungi lingkungan akar tetap sehat, dan mencegah penularan penyakit lewat udara.

Jika Anda berkunjung ke pusat-pusat layanan kesehatan seperti Puskesmas atau rumah sakit, saat ini akan sangat mudah menemukan poster-poster terkait dengan etika batuk.

Sejumlah etika yang layak diterapkan saat batuk adalah:

  • Mengenakan masker, dan ini bersifat sekali pakai. Jangan menggunakan masker bekas atau bolak balik. Masker dibuang saat kotor atau setelah selesai digunakan pada tempat sampah tertutup.
  • Batuk dengan memalingkan wajah dari lawan bicara. Cukup diingat, jangan batuk ke arah orang lain.
  • Tutup hidung dan mulut dengan tisu (pilihan utama) atau lengan baju bagian dalam (pilihan terpaksa). Jangan menggunakan tangan untuk menutup hidung dan mulut, karena kuman bisa menempel pada tangan. Jadi selalu ingat untuk membawa tisu ke mana pun saat batuk, dan buang tisu habis pakai ke tempat sampah tertutup.
  • Cuci tangan dengan air mengalir dan sabun setelah batuk. Ini adalah standar higienitas yang tidak boleh dilalaikan.

Jika Anda merasa bahwa batuk selalu berkelanjutan dan belum membaik walau sudah membeli obat bebas, over the counter drugs, atau bahasa kerennya obat warung. Maka segera periksa ke Puskesmas terdekat.

Dan terakhir tetaplah menjaga kesehatan dengan baik.

Tulisan ini dimuat dalam menyambut hari Tuberkulosis yang jatuh pada tanggal 24 Maret.

Menghadapi Tuberkulosis Resistan Obat

Dalam pertemuan mengenai pembahasan masalah TB RO – Tuberkulosis Resistan Obat, terdapat sejumlah kekhawatiran yang dapat diungkapkan. Kemunculan kasus-kasus Tuberkulosis Resistan Obat seperti MDR-TB (multidrug resistant) dalam wujud XDR-TB (extensively drug resistant) – sebuah istilah yang pertama kali digunakan pada Maret 2006, disusul oleh TDR/XXDR – TB (totally drug resistant / extremely drug resistant) menjadi tanda bahwa perang melawan tuberkulosis akan lebih panjang lagi.

XDR-TB melibatkan kekebalan kuman tuberkulosis terhadap dua obat TB paling kuat, isoniazid dan rifampicin, dengan tambahan kebal terhadap salah golongan fluoroquinolones (seperti levofloxacin atau moxifloxacin), dan setidaknya kebal terhadap salah satu dari tiga obat injeksi lini kedua (amikacin, capreomycin atau kanamycin). Baik MDR-TB maupun XDR-TB memerlukan waktu lebih panjang untuk diobati, dan wajib menggunakan obat anti-TB lini kedua yang mana lebih mahal dan memiliki efek samping lebih banyak dibandingkan obat lini pertama (World Health Organization (WHO), 2016).

Lanjutkan membaca “Menghadapi Tuberkulosis Resistan Obat”

Tata Laksana Tuberkulosis di Layanan Kesehatan Primer

Pengantar

Tuberkulosis (ICPC II: A70 Tuberculosis | ICD X: A15 Respiratory tuberculosis, bacteriologiccaly and histologically confirmed) adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB yaitu Mycobacterium tuberculosis. Sebagian besar kuman TB menyerang paru, namun dapat juga mengenai organ tubuh lainnya. Indonesia merupakan negara yang termasuk sebagai 5 besar dari 22 negara di dunia dengan beban TB. Kontribusi TB di Indonesia sebesar 5,8%. Saat ini timbul kedaruratan baru dalam penanggulangan TB, yaitu TB Resisten Obat (Multi Drug Resistance/ MDR). Lanjutkan membaca “Tata Laksana Tuberkulosis di Layanan Kesehatan Primer”

Hari TB Sedunia 2015

Kemarin, tepatnya pada tanggal 24 Maret 2015, diperingati sebagai hari Tuberkulosis sedunia. Organisasi Kesehatan Dunia, WHO, kini memanggil semua negara untuk mendukung strategi 20 tahunan yang baru yang bertujuan untuk mengakhiri epidemi tuberkulosis dunia.

Beberapa tahun belakangan mungkin adalah sebuah perjuangan yang patut diperhitungkan. Lebih dari 37 juta jiwa terselamatkan. Pada tahun 2013, sekitar 9 juta penderita TB baru muncul, dan sekitar setengah juta adalah kasus yang sudah kebal obat dan sulit disembuhkan; diperkirakan lebih dari 1,5 juta jiwa meninggal setiap tahunnya oleh karena tuberkulosis. Lanjutkan membaca “Hari TB Sedunia 2015”

Tuberkulosis dan Masyarakat

Bagian yang paling sulit dari eradikasi tuberkulosis di Indonesia mungkin adalah pola hidup masyarakat kita, serta kecerdasan dan kesadaran yang masih kurang, serta kepekaan yang belum terasah akan isu-isu kesehatan. Paradigma lama masih melekat jika saya boleh melihat secara sekilas, masyarakat kita masih jauh dari mengenali kesehatan dirinya sendiri dan lingkungan pada umumnya.

Masyarakat daerah perkotaan yang mendapatkan akses pendidikan dan promosi kesehatan yang lebih baik, mungkin lebih sedikit penyakit menular tropis seperti tuberkuluosis (TB) yang muncul; tapi masyarakat pedesaan akan menjadi sasaran yang lebih rentan sebagai tempat hinggapnya penyakit-penyakit ini. Lanjutkan membaca “Tuberkulosis dan Masyarakat”