Social Network on Demand

Bisakah kita mengatakan bahwa jejaring sosial adalah sebuah wujud peradaban yang baru? Facebook, Twitter, LinkedIn, Google+, Instagram, YouTube dan banyak lagi di mana setidaknya seseorang sekarang sudah memiliki satu, dua atau bahkan tiga akun jejaring sosial sekaligus. Saat saya memiliki ponsel Android, sejumlah jejaring sosial saling terkait satu dan yang lainnya, dan sepertinya menjadi bagian dari kewajaran.

Misalnya saja, saya sangat jarang melakukan pembaruan atau bercuap di Facebook secara langsung, namun saya melakukannya di Twitter dan akan secara otomatis muncul di Facebook. Ups, tidak hanya pelajar yang bisa mencontek dan salin tempel, tapi jejaring sosial juga ahlinya.

Hingga kemudian saya merasakan, bahwa ini terlalu berlebihan, terutama masalah notifikasi yang datang silih berganti. Setelah saya ‘mematikan’ sejumlah setelan notifikasi, saya masih menemukan notifikasi datang pada saat yang ‘kurang’ nyaman, tentu saja ini tidak sering. Dan saya kemudian bertanya, apakah ‘notifikasi’ ini esensial?

Capture Lanjutkan membaca “Social Network on Demand”

Corebird – Klien Twitter yang Lainnya

Sejak penggunaan ponsel cerdas, saya jarang sekali mengakses Twitter melalui klien (desktop client) di komputer. Namun kadang saya memang ingin jauh dari yang namanya telepon genggam, sehingga ingin melirik sejumlah klien twitter kembali yang bisa digunakan untuk Linux. Ada beberapa yang menarik, termasuk yang bisa dipasangkan melalui Pidgin dengan plugin-nya. Tapi saya tertarik pada yang sederhana seperti Corebird. Lanjutkan membaca “Corebird – Klien Twitter yang Lainnya”

Hotot si Aplikasi Twitter untuk Linux

Hotot bisa dikatakan salah satu aplikasi klien Twitter untuk Linux yang cukup layak digunakan, tidak terlalu bagus, tapi tidak juga terlalu buruk. Pengembangannya naik dan turun, sebagaimana banyak nasib aplikasi open source lainnya. Pertama kali saya mengenal Hotot adalah dari pengembang IGOS Nusantara di sebuah pertemuan. Saya memang tidak merekomendasikan aplikasi yang satu ini, mungkin karena faktor selera pribadi saja.

Mungkin juga karena Hotot adalah aplikasi yang sedang dalam tahap pengembangan, jadi Anda bisa menemukan banyak hal yang agak mengganggu (buggy) saat menggunakannya. Namun jika hanya melewati jalanan yang tenang, bukan pengguna Linux namanya. Lanjutkan membaca “Hotot si Aplikasi Twitter untuk Linux”

TweetDeck pada Jolicloud Linux

Salah satu distribusi Linux yang masih bisa menggunakan TweetDeck dengan cukup cantik adalah Jolicloud, terima kasih pada teknologi Web HTML5 yang tertanam padanya. Saya kebetulan memiliki Jolicloud, distribusi Linux yang menggunakan kekuatan komputasi awan menyelip di dalam Ubuntu Raring Ringtail yang sebentar lagi akan diganti. Saya pun iseng melihat tawaran aplikasi yang terdapat di App Center milik Jolicloud, dan ternyata di dalamnya masih ada TweetDeck.

TweetDeck adalah, bagi yang belum kenal, aplikasi untuk mengelola jejaring sosial Twitter (dan mungkin juga masih bisa Facebook). Aplikasi ini dulu sangat populer di era akhir kejayaan komputer pribadi sebelum didesak oleh perkembangan teknologi bergerak seperti smartphone dan tablet PC. Mereka yang gemar berceletuk ria akan berada di depan monitor memerhatikan pembaruan yang muncul di lini masa Twitter mereka, di sinilah TweetDeck sempat menjadi raja sesaat. Lanjutkan membaca “TweetDeck pada Jolicloud Linux”

MetroTwit – Klien Twitter untuk Windows 8

Di masa masih berjayanya Adobe Air (yang sekarang sudah tidak ada lagi), klien twitter atau aplikasi di jendela desktop untuk mengakses layanan Twitter dengan praktis menjadi begitu populer, sebut saja TweetDeck sebagai salah satunya – yang juga banyak digunakan tidak hanya di Windows namun juga Linux. Tampaknya Adobe Air mengalami keterpurukan, begitu juga klien Twitter yang berjalan menggunakannya.

Orang-orang beralih zaman menggunakan ponsel cerdas untuk berkomunikasi di jejaring sosial, termasuk halnya Twitter. Aplikasi yang berbasis ponsel cerdas berkembang dengan pesat, sementara aplikasi untuk komputer klasik seperti laptop dan desktop menjadi seakan-akan mengalami stagnasi panjang. Lanjutkan membaca “MetroTwit – Klien Twitter untuk Windows 8”

Dunia Memerlukan Lebih Banyak

Tanggal 19 Agustus diperingati sebagai Hari Kemanusiaan Sedunia (World Humanitarian Day). Saya akan mengajak Anda untuk ikut serta berkampanye selama sebulan penuh di jejaring sosial twitter dengan menggunakan penanda #theworldneedsmore #kataAnda.

Anda bisa berkata banyak hal, #theworldneedsmore #water; #theworldneedsmore #love; apapun yang terpikirkan dalam benak Anda selama sebulan ini. Anda mendonasikan kata-kata di sini, karena mungkin kampanye ini belum bersifat meluas ke pelosok dunia. Saya berharap akan ada kampanye serupa di Indonesia. Lanjutkan membaca “Dunia Memerlukan Lebih Banyak”

l’énigme Ditutup

Satu lagi blog pendek saya yang berjudul “l’énigme” ditutup. Hal ini karena pemilik layanan blog Posterous yaitu Twitter, telah mengeluarkan pengumuman resmi yang saya terima melalui surat elektronik tentang penutupan ini. Sejak Posterous diakuisisi oleh Twitter, saya sudah punya firasat hal ini akan terjadi.

Sejak saat itu, keraguan saya menjadi kenyataan. Twitter hanya ingin mengambil “human resources” alias potensi pekerja dan pengembang aplikasi Posterous ke dalam perusahaan mereka untuk mengembangkan Twitter, sedangkan layanan Posterous sendiri menjadi terlupakan. Ini memang banyak dilakukan oleh korporasi besar dengan mencaplok starter up kecil, kemudian mengambil manis dan membuang sepahnya. Lanjutkan membaca “l’énigme Ditutup”

Google Akan Mengeluarkan Sistem Komentar Baru

Sedang hangat pembicaraan di Internet bahwa Google akan mengeluarkan sistem komentar baru, dan ini berarti tantangan bagi sistem komentar lainnya, seperti Disqus yang saat ini menguasai pasar sistem komentar pihak ketiga. Pun demikian, menurut rumor yang beredar, sistem komentar dari Google ini tidak serta merta ditujukan menyaingi Disqus si raja, ataupun Livefyre yang sedang naik daun.

Namun sistem komentar ini direncanakan ditanam di Google+ sehingga dapat menyaingi sistem komentar milik Facebook. Banyak situs yang menanamkan sistem komentar Facebook secara ekslusif, dan ini menaikan daya penggunaan Facebook yang berujung pada penguatan pasar Facebook sebagai jejaring sosial. Lanjutkan membaca “Google Akan Mengeluarkan Sistem Komentar Baru”

Posterous Jatuh ke Tangan Twitter

Saat membuka surel pagi ini, saya mendapatkan informasi dari pihak WordPress – tepatnya sebuah tawaran – fungsi mengimpor blog berbasis Posterous ke WordPress. Rupanya, saya melewatkan sebuah berita besar bahwa Posterous kini telah diakuisisi oleh Twitter. Saya bertanya-tanya, apa yang mungkin terjadi kemudian?

Sayangnya, tanya jawab akuisisi yang disediakan oleh pihak Posterous masih sangat mengambang. Sehingga tidak heran jika banyak pengguna yang tampak khawatir bagaimana nasib layanan blog ini ke depannya. Seandainya Posterous Space tidak dapat digunakan lagi, itu bermakna saya bisa menutup salah satu blog saya. Lanjutkan membaca “Posterous Jatuh ke Tangan Twitter”

Turpial untuk openSUSE Asparagus

Saya sedang mencari aplikasi klien twitter yang pas pada openSUSE Asparagus yang saya gunakan, dulu saya masih bisa memilih Tweetdeck karena dukungan AdobeAIR untuk Linux masih berlangsung dan meruapakan aplikasi resmi dari Twitter. Namun dengan berhentinya pengembangan AdobeAIR untuk Linux, tentu saja aplikasi seperti Tweetdeck dan sejenisnya yang memanfaatkan mesin serupa akan sangat riskan digunakan pada Linux.

Jadi saya harus memilih aplikasi yang menggunakan mesin yang berbeda, lalu saya menemukan Turpial – sebuah aplikasi ringan menggunakan bahasa pemprograman Phyton. Beberapa distribusi Linux telah memuat Turpial pada mirror mereka, Fedora salah satunya, dan kebetulan openSUSE juga memilikinya.

Lanjutkan membaca “Turpial untuk openSUSE Asparagus”