Tantangan Terhadap Ancaman HIV yang Kebal Obat

Jutaan penderita HIV setiap harinya mendapatkan dosis pengobatan antiretroviral, hanya saja tidak semuanya taat minum secara teratur. Hal ini merupakan penyebab kekhawatiran munculnya kekebalan virus (HIV) terhadap obat-obat yang efektif dan (harganya) terjangkau. Ini menyebabkan virus tidak lagi berespons terhadap obat yang diberikan.

Lanjutkan membaca “Tantangan Terhadap Ancaman HIV yang Kebal Obat”

Ketika Kampanye Kondom tidak Masuk Akal

Kemarin diperingati sebagai hari AIDS sedunia, dan salah satu target dunia kesehatan di mana pun di belahan bumi ini adalah memutus mata rantai penularan HIV/AIDS ini. Lalu di Indonesia, kementerian kesehatan membuat kampanye kondom yang menjadi pekan kondom nasional. Saya seorang teman mengirim tweet kendaraan kondom yang digunakan untuk kampanye, saya pun cuma bilang “wow”, karena tentu saja untuk kampenye kendaraan itu akan begitu menarik perhatian.

Tapi mari kita kembali, muncul kemudian permasalahan. Gerasakan agresif dari kementerian kesehatan ini pun mengundang banyak pesimisme dan (tentunya) penolakan. Kalau yang menolak kelompok yang sama dari tahun ke tahun, rasanya biasa saja. Tapi jika kemudian banyak kalangan medis ikut menolak, bahkan sampai saya dengar staf kementeriaan sendiri menolak kampanye seperti ini, maka tentu akan membuat saya bertanya-tanya lagi. Lanjutkan membaca “Ketika Kampanye Kondom tidak Masuk Akal”

Layanan Aplikasi AIDS Digital

Pada akhir bulan yang lalu, Kementerian Kesehatan meluncurkan aplikasi AIDS Digital, sebuah aplikasi berbasis web yang bisa diakses di www.aidsdigital.net serta terdapat juga aplikasi untuk iOS, Android OS dan BlackBerry OS 10 yang masing-masing pusat/toko aplikasi. Aplikasi ini menawarkan informasi pada seluruh masyarakat, di mana informasi memang menjadi hak masyarakat.

Informasi yang disediakan meliputi beberapa hal, misalnya pada aplikasi berbasis android yang saya coba, halaman paling depan menampilan HIV 101 yang merupakan informasi dasar seputar HIV/AIDS. Halaman awal ini akan menjawab seputar pertanyaan umum Anda, semisalkan, apakah minuman kaleng atau berjabat tangan dapat menularkan HIV/AIDS? Lanjutkan membaca “Layanan Aplikasi AIDS Digital”

Memahami Gejala HIV/AIDS

Infeksi HIV masih merupakan salah satu hal yang cukup mengkhawatirkan, penyebarannya cukup menyusahkan guna dilacak. Karena nyaris tanpa gejala, penderitanya pun tidak menyadari dan tidak melakukan deteksi dini.

Infeksi HIV dibagi ke dalam tiga tahapan/stadium, tahapan pertama disebut sebagai infeksi akut atau serokonversi, dan biasanya terjadi dua hingga enam minggu pasca paparan atau mulainya infeksi. Ini adalah masa ketika daya tahan tubuh melakukan perlawanan terhadap infeksi. Gejala awal yang dimunculkan begitu mirip dengan infeksi-infeksi virus pada umumnya, sebagai halnya flu, sehingga sulit disadari bahwa itu adalah HIV. Lanjutkan membaca “Memahami Gejala HIV/AIDS”

Di Bawah Separuh Langit

Setiap orang memiliki masalah dan kesulitan dalam hidupnya, kecuali mungkin Anda lahir dengan keberuntungan tak terbatas – maka Anda dapat hidup di luar semua masalah yang dialami orang lain. Beruntunglah bagi orang yang mampu mengatasi masalahnya, dan lebih beruntung juga jika mereka dapat membantu orang lain mengatasi masalah mereka.

Terutama kaum perempuan, memiliki masalah sendiri. Siang ini, Dhea mengingatkan saya akan sebuah video lawas tentang bagaimana masa depan dari seorang anak gadis yang hidup di dalam kemiskinan bukan lagi berada dalam kontrolnya. Dan kemudian rantai kemalangan akan dimulai di sana, padanya dan pada seluruh dunia. Lanjutkan membaca “Di Bawah Separuh Langit”

Obat-obatan HIV Berpotensi Menyebabkan Penuaan Dini

Ketika saya asyik membuka-buka koran digital saya pada topik kesehatan, saya menemukan sebuah berita yang cukup hangat dibahas. Yaitu tentang potensi obat-obatan HIV yang menyebabkan penuaan dini atau premature aging. Tulisan aslinya dirilis pada jurnal Nature Genetics pada 26 Juni lusa, diulas di Welcome Trust dan sepertinya mendapatkan banyak respons.

Dikatakan bahwa banyak penderita HIV/AIDS yang menerima terapi obat antiretroviral menunjukkan usia yang relatif lebih tua daripada usia sesungguhnya. Semisal jika ia menjalani terapi selama 10 tahun, maka jika seharusnya pasien akan tampak 10 tahun lebih tua, maka justru akan terlihat sekitar usia 20 atau 30 tahun lebih tua.

Lanjutkan membaca “Obat-obatan HIV Berpotensi Menyebabkan Penuaan Dini”

Pro Kontra Kampanye Kondom

Para aktivis yang menyebarkan gerakan pencegahan penyebaran HIV sering menggunakan kampanye kondom sebagai salah satu medianya. Salah satu praktek yang umum adalah membagikan kondom gratis ketika peringatan hari AIDS sedunia.

Secara mendasar saya sendiri setuju dengan ide kampanye kondom ini. Kampanye seperti ini mengingatkan betapa pentingnya pelindung ketika berhubungan seks guna mengurangi risiko penularan HIV. Saya rasa simpul ketidaksetujuan muncul ketika seolah-olah komunikasi dalam kampanye ini memberikan lampu hijau pada aktivitas seks bebas di dalam masyarakat.

Saya rasa tidak demikian, membagikan kondom bukan berarti memberikan kesempatan seseorang melakukan seks bebas. Kalau saya tanya sendiri, jika Anda menerima kondom gratis saat kampanye kondom, apakah Anda akan menggunakannya untuk seks bebas? Saya rasa tidak jika Anda tidak memiliki kebiasaan itu. Tapi jika Anda memiliki kebiasaan melakukan seks bebas, ya itu bisa jadi.

Dalam kampanye pencegahan HIV, kampanye anti seks bebas juga dilakukan bukan? Karena memang itu adalah cara yang secara relatif lebih efektif dibandingkan penggunaan kondom. Tapi kadang ini tidak cukup – itulah poinnya dalam kampanye kondom.

Saya ibaratkan begini, Anda memiliki mobil, Anda pun memasang alarm anti maling pada mobil anda, untuk mencegah terjadinya pencurian. Lalu mengapa tidak mendidik masyarakat saja agar tidak mencuri atau menjadi pencuri, bukankah itu lebih baik? Ya, memang masyarakat yang sadar akan tidak mencuri itu adalah sebuah kebaikan bagi kita semua. Tapi toh ternyata ada pencurian bukan, sehingga kita perlu melakukan pengaman.

Nah demikian juga ada bagian dari masyarakat yang memang terbiasa dengan pergaulan bebas dengan seks bebas di dalamnya. Dan kelompok inilah target dari kampanye kondom tersebut. Tentu saja bukan berarti kampanye kondom adalah pengganti dari kampanye menghindari seks bebas yang persuasif.

Karena penyebaran HIV adalah masalah nyata di masyarakat, demikian juga dengan perilaku seks bebas.

Bahkan ketika kampanye menghindari perilaku seks bebas telah ada di masyarakat, dikuatkan dengan pelbagai upaya lainnya untuk tujuan serupa. Entah mengapa, menurut saya itu pun tidak menjamin bahwa perilaku seks bebas akan terhapus – sesuatu yang ada di masyarakat sejak dulu dan tidak ada solusi nyata hingga kini untuk menghapus sepenuhnya.

Mungkin hal ini karena kesadaran individu sendiri yang menentukan karakter dan perilakunya dalam keseharian. Nasihat dan tekanan sering kali akan gagal tanpa adanya kesadaran. Dan ketika itu tidak berhasil, saya rasa kita memerlukan metode lainnya.

Ada juga bagian lain yang sering kali terlupakan. Bahwa dengan menolak kampanye kondom, kita telah melakukan diskriminasi pada penderita HIV/AIDS. Ingat perlindungan bukan hanya untuk yang belum terinfeksi HIV tapi juga pada mereka yang telah terinfeksi HIV agar bisa mengurangi risiko penularan pada pasangannya yang belum terinfeksi.

Penderita HIV juga memiliki hak asasi dalam kebutuhan seksual mereka, ketika kampanye kondom ditolak, berarti kita juga turut melarang mereka berhubungan tanpa pengaman. Bukankah prinsip kampanye kondom bukan untuk melegalkan seks bebas namun mengingatkan pentingnya perlindungan ketika berhubungan seksual guna mengurangi risiko penularan HIV. Ketika kita menolak kampanye kondom, kita telah melakukan diskriminasi pada para penderita ini.

Bahkan pada sesama penderita HIV pun ketika berhubungan seksual pengamanan kondom tetap disarankan.

Saya kadang ingin bertanya pada mereka yang menolak kampanye kondom, saya hendak mempertanyakan. Apakah mereka pernah berpikir atau merenung hingga sejauh ini? Apakah mereka pernah menyentuh seberapa jauh empati bisa diberikan pada nurani mereka yang menderita HIV?

Rasanya tidak ada orang yang ingin terkena HIV, kadang mereka tidak selalu terinfeksi dari seks bebas atau penggunaan jarum suntik untuk narkoba, namun mereka tiba-tiba tahu terinfeksi HIV. Mereka pastinya berharap sebisa mungkin tetap bisa hidup sewajarnya, termasuk dalam hubungan suami-istri. Dan kini salah satu hal yang bisa menolong mereka untuk itu sedang dikampanyekan, dan ada sekelompok orang yang mengutuk kampanye itu, kampanye yang memberikan harapan untuk hidup sewajarnya pada mereka dengan HIV/AIDS – dan dapatkah kita merasakan pada yang para penderita ini rasakan jika melihat “pengutukan” itu? Pun para penderita ini terinfeksi melalui seks bebas dan penggunaan narkoba, apakah itu membuat mereka berhenti menjadi manusia, sehingga kita berhak mendiskriminasikan mereka?

Saya hanya ingin mengajak sahabat sekalian melihat kembali pro dan kontra ini dari sudut pandang yang berbeda, dari sisi yang mengedepankan kemanusiaan dan hak asasi manusia. Saya tidak memiliki jawaban untuk masalah pro dan kontra kampanye kondom ini, saya sendiri cenderung mendukung kampanye ini, kecuali saya memiliki solusi nyata untuk menghapuskan perilaku seks bebas dari muka bumi dan menyembuhkan semua penderita HIV/AIDS serta memusnahkan virusnya dari muka bumi juga, mungkin saya akan berada pada pihak kontra. Walau agak hiperbola, namun saya hanya ingin menjadi realistis.

Tapi pendapat yang menyatakan bahwa kondom tidak bisa mencegah penularan HIV 100% adalah benar, karena itulah disebutkan mengurangi risiko penularan. Saya tidak tahu, mungkin teknik komunikasi kampanye kondom kurang begitu baik, sehingga menimbulkan persepsi melegalkan seks bebas, apalagi saya kurang begitu memperhatikan kampanye yang ada saat ini.

Kampanye Kondom Afrika Selatan

Gambar di atas adalah cuplikan dari kampanye kondom di Afrika Selatan guna memerangi penyebaran HIV. Seluruh dunia menghadapi masalah HIV saat ini. Kondom dinilai sebagai salah satu solusi nyata dalam memerangi penyebaran infeksi HIV. Dan bukan berarti jalan-jalan lain yang bersifat persuasif, regulatif pun edukatif ditinggalkan.

  Copyright secured by Digiprove © 2010 Cahya Legawa

Buah Merah Menyembuhkan HIV dan AIDS?

Pertanyaan sejenis ini sering diutarakan oleh banyak orang, dan saya rasa hal ini adalah sesuatu yang umum. Hingga kini HIV/AIDS belum ada obat yang dapat menyembuhkannya dari sisi medis, dalam artian seperti orang sembuh dari flu dan benar-benar tidak sakit lagi. Banyak orang kemudian mencari jalan-jalan alternatif, salah satunya adalah melalui buah merah asal Papua (Pandanus conoideus).

Lho bukannya sudah pernah diujikan pada beberapa penderita HIV/AIDS? Ya, saya rasa saya pernah membaca uji empiris pada beberapa sukarelawan yang bersedia melakukan uji. Dan banyak yang memperlihatkan perbaikan kondisi, ingat! Di sini yang dimaksud perbaikan kondisi bukanlah kesembuhan dari HIV/AIDS, dan memang tidak pernah disebutkan adanya kesembuhan dari HIV/AIDS oleh efek buah merah.

Dan bahkan ada kasus di mana penderita HIV/AIDS menghentikan pengobatan ARV-nya dan beralih ke buah merah, kondisinya kemudian memburuk dan meninggal.

Jika memang tidak terbukti menyembuhkan maka sebaiknya memang tidak dikatakan menyembuhkan. Saya sendiri tidak mengetahui bagaimana kelanjutan penelitian buah merah ini. Tapi yang jelas yang mengklaim bahwa buah merah sebagai obat yang menyembuhkan HIV/AIDS (dan pelbagai penyakit lainnya), hanyalah produsen dan pemasaran produk buah merah yang dijual di pasaran.

Gambar di atas saya cuplik dari salah satu situs penjual buah merah, tentu saja itu bukan klaim medis, namun klaim dari produsen. Tapi kadang saya heran, kok ada produsen yang berani memberi klaim seperti itu, atau mungkin dia belum membaca PP RI no. 69 tahun 1999 tentang Label dan Iklan Pangan – Pasal 53, dan aturan lainnya yang berkaitan.

Tentu saja dari sisi edukasi masyarakat hal-hal ini seperti ini menyesatkan. Buah merah mungkin menyehatkan karena kandungan nutrisinya, namun apa kalah menyehatkan dengan wortel, jeruk, apel, mengkudu atau jambu yang ada di sekitar kita? Tapi mengklaim produk olahannya yang dijual sebagai obat yang menyembuhkan suatu penyakit yang belum terbukti (teruji klinis) kebenarannya tentu saja bisa dikatakan sebagai pembohongan publik.

Tapi jika Anda percaya dengan apa yang disampaikan produsen produk, tidak ada yang melarang untuk membeli produknya bukan?

Pun demikian, saya rasa tekanan bagi penderita HIV/AIDS dan keluarganya tidaklah sedikit. Selayaknya kita tidak memberikan informasi yang justru hanya memberi harapan palsu.

Saya harap jika produsen produk memang bersedia bertanggung jawab, mereka seharusnya juga melanjutkan penelitian tentang buah merah hingga ke tahap uji klinis yang memang bisa dipertanggung-jawabkan – walau itu berarti harus menyiapkan jutaan dolar untuk biaya penelitian, dan belum tentu mendapatkan hasil yang diharapkan. Adakah mereka memiliki sisi kemanusiaan untuk jujur pada sesama?

Saya tidak mengatakan buah merah buruk, hanya mempertanyakan kejujuran pihak produsen produk olahan buah merah. Jika Anda memiliki kesempatan, mengapa tidak bertamasya ke Papua dan membawa oleh-oleh dari negeri Cendrawasih itu berupa buah merah.

Nah, pasti akan ada banyak yang menawarkan Anda buah merah yang segar dan tentu saja dengan kandungan nutrisi yang masih utuh (gambar diambil dari metanews.com).

Akses Universal dan Hak Asasi

Setiap 1 Desember, warga dunia memperingati Hari AIDS Sedunia (World AIDS Day). Hanya guna mengingatkan kita bahwa AIDS belumlah merupakan masalah yang terselesaikan di seluruh dunia saat ini. Menurut perkiraan UNAIDS, kini ada sekitar 33,3 juta orang hidup dengan HIV, termasuk 2,5 juta anak-anak. Selama tahun 2009, 2,6 juta orang menjadi penderita yang baru terinfeksi, dan diperkirakan 1,8 juta orang meninggal karena AIDS.

Tema Hari AIDS Sedunia kali ini adalah “Akses Universal dan Hak Asasi” (Universal Access and Human  Rights). Yang bermakna kita harus memberikan kesempatan akses universal terhadap pencegahan, perawatan dan pengobatan universal terhadap penderita HIV dan AIDS sebagai bagian dari pemahaman yang seksama terhadap hak asasi manusia.

Jutaan orang terinfeksi HIV setiap tahunnya, terutama di negara dengan pendapatan per kapita yang rendah hingga menengah, namun kurang dari separuhnya yang mendapatkan akses terhadap terapi antiretroviral misalnya, bahkan kadang akses kesehatan-pun kesulitan.

Perlindungan terhadap hak asasi manusia adalah hal mendasar yang kita perlukan dalam memerangi epidemi HIV dan AIDS secara global. Pelanggaran terhadap hak asasi manusia akan menjadi seperti menyiram minyak pada api penyebaran HIV, seperti menyisihkan kelompok masyarakat tertentu, semisal pengguna narkoba suntik dan pekerja seks komersial pada posisi yang lebih rentan terhadap infeksi HIV.

Dengan mempromosikan hak asasi manusia bagi individu, infeksi yang baru dapat dicegah dan orang yang hidup dengan HIV dapat hidup bebas dari diskriminasi.

Untuk mengetahui apa saja yang dapat kita lakukan dalam memberikan dukungan. Silakan kunjungi halaman kampanye World AIDS Day.

Mitos dan Kesalahpahaman Seputar HIV dan AIDS

Sudah hampir selama 30 tahun HIV dan AIDS telah dikelilingi oleh banyak mitos dan kesalahpahaman. Pada beberapa kasus, ide-ide yang datang dari pengertian yang keliru ini kadang malah membuat orang semakin rawan menjadi HIV positif. Meski ada banyak pertanyaan belum terjawab seputar HIV, namun para peneliti kita telah belajar banyak hal akan penyakit yang satu ini.

Walau tidak semua mitos ini ada di setiap negara, namun kita bisa menjumpainya di berbagai belahan dunia. Jadi jangan terkejut jika Anda mungkin pernah mendengar salah satu dari mitos berikut. Lanjutkan membaca “Mitos dan Kesalahpahaman Seputar HIV dan AIDS”