Tata Laksana Keracunan Makanan

Keracunan makanan merupakan suatu kondisi gangguan pencernaan yang disebabkan oleh konsumsi makanan atau air yang terkontaminasi dengan zat patogen dan atau bahan kimia, misalnya Norovirus, Salmonella, Clostridium perfringens, Campylobacter, dan Staphylococcus aureus.

Beberapa keluhan umum pada kasus keracunan makanan seperti:  Diare akut. Pada keracunan makanan biasanya berlangsung kurang dari2 minggu;  darah atau lendir pada tinja, menunjukkan invasi mukosa usus atau kolon; nyeri perut;  nyeri kram otot perut, menunjukkan hilangnya elektrolit yang mendasari, seperti pada kolera yang berat; kembung.

Lanjutkan membaca “Tata Laksana Keracunan Makanan”

Selayang Pandang Penyakit Antraks

Kembali berbicara tentang antraks, kali ini penulis menyajikan sejumlah saduran ringan mengenai antraks yang bersumber dari artikel Mayo Clinic1, dan sebuah penelitian Dhani Redhono et.al.,2 sebagai acuan penulis. Masyarakat selayaknya dapat lebih mengenal antraks (anthrax) ini karena merupakan kasus yang terjadi di negara kita. Lanjutkan membaca “Selayang Pandang Penyakit Antraks”

Terapi Masal Azithromycin Dosis Tunggal untuk Frambusia

Frambusia (dalam bahasa Inggris: Yaws), dikenal juga sebagai Patek di Indonesia. Penyakit ini sudah ada sejak lama, bahkan catatan di awal abad ke-20 – dan merupakan salah satu penyakit kulit paling menular. Dengan semakin umumnya penggunaan antibiotik di abad ke-21 ini, penyakit ini semakin jarang kita jumpai. Biasanya dulu pengobatan menggunakan penicilin atau tetracycline. Frambusia disebabkan oleh Treponema pallidum subspesies pertenue. Lanjutkan membaca “Terapi Masal Azithromycin Dosis Tunggal untuk Frambusia”

Adikuman – CRE

Belakangan ini topik tentang adikuman (superbug) – CRE – carbapenem-resistant Enterobacteriaceae menjadi hangat kembali. Carbapenem dikenal sebagai salah satu antibiotik garis akhir dalam melawan infeksi bakteri jika antibiotik lain gagal, sehingga jika ada kelas bakteri enterobakter yang kebal terhadap carbapenem, maka ini adalah mimpi buruk bagi banyak klinisi, dan pasien yang terkana. Sehingga kuman yang memiliki kemampuan seperti ini disebut sebagai superbug – adikuman.

Lanjutkan membaca “Adikuman – CRE”

Keracunan Makanan

Oleh sebab beberapa kasus belakangan ini, maka saya hendak menulis sekilas tentang keracunan makanan. Apa yang biasanya menjadi pertimbangan dokter di layanan primer untuk kasus-kasus seperti ini. Saya akan menggunakan rujukan dari MedScape untuk tulisan kali. Jika adalah Anda adalah masyarakat awam, dan sedang menemukan kasus yang dicurigai sebagai keracunan makanan, tidak disarankan membaca artikel ini terlebih dahulu, namun langsung membawa korban ke pusat pelayanan kesehatan terdekat.

Keracunan makanan diartikan sebagai suatu kondisi sakit yang disebabkan oleh konsumsi makanan atau minuman/air yang tercemar oleh bakteri dan/atau racun mereka, atau dengan parasit, virus, atau bahan kimia. Patogen yang paling umum menyebabkan keracunan makanan adalah Norovirus, Salmonella, Clostridium perfringens, Campylobacter, dan Staphylococcus aureus. Lanjutkan membaca “Keracunan Makanan”

Tentang Resistensi Antibiotik

Saya sering mengutarakan hal yang sama di sini, tentang penggunaan antibiotik sembarangan yang bisa menimbulkan potensi resistensi antibiotik di kemudian hari. Namun laporan WHO menyatakan hal yang memang sudah lama diduga dan dalam skala yang cukup mengkhawatirkan, dan kini pengumuman ini kembali dipublikasikan kepada masyarakat global sehingga semakin awas terhadap penggunaan antibiotik. Lanjutkan membaca “Tentang Resistensi Antibiotik”

Sekilas Tentang Helicobacter Pylori

Semalam saya sedikit terlibat tentang infeksi Helicobacter pylori pasca menghadiri acara resepsi salah seorang sahabat saya ketika SMP & SMA. Saya jadi teringat kembali tentang tulisan saya sebelumnya, yaitu “Mengenal Urea Breath Test” yang merupakan salah satu tes uji untuk mendeteksi adanya infeksi oleh bakteri ini.

Saya tidak tahu persis insidensi H. pylori di Indonesia, namun sepertinya cukup sering dibahas di forum-forum kesehatan dalam negeri. Jika Anda tidak tahu mengenai H. pylori, maka saya bisa sampaikan bahwa H. pylori adalah bakteri yang bertanggung jawab atas sebagian besar kasus ulkus (tukak) & peradangan pada lambung (gastritis kronis).

Lanjutkan membaca “Sekilas Tentang Helicobacter Pylori”

Mengenal Urea Breath Test

Ini adalah sebuah tes yang digunakan untuk mendeteksi keberadaan bakteri Helicobacter pylori, sejenis bakteri yang cukup sering menginfeksi perut dan merupakan salah satu penyebab utama ulkus (tukak) baik di lambung maupun usus dua belas jari (bagian awal dari usus halus).

Dasar tes ini adalah pada sifat atau kemampuan H. pylori dalam memecah urea (karena bakteri menghasilkan enzim urease), senyawa kimia yang tersusun dari nitrogen dan karbon, menjadi karbon dioksida yang kemudian diserap oleh usus dan dibuang melalui napas.

Lanjutkan membaca “Mengenal Urea Breath Test”

Susu Formula yang Tercemar Bakteri Enterobacter Sakazakii

Sepertinya belakangan ini media “diributkan” dengan liputan tentang adanya penelitian yang menyebutkan sejumlah susu formula “tercemar” dengan bakteri Enterobacter sakazakii. Sebuah penelitian yang konon sudah berlangsung beberapa tahun yang lalu. Saya rasa wajar jika kemudian masyarakat yang mendengar hal ini menjadi “panik”, apalagi ditambah informasi bahwa “betapa mengerikannya” infeksi yang ditimbulkan oleh bakteri ini.

Tapi nyatanya memang kalau membaca tanya-jawab di WHO, memang orang akan bergidik ngeri, sebagaimana sedikit saya kutipkan dari dokumen WHO:

Enterobacter sakazakii is a bacterium belonging to the family Enterobacteriaceae, which contains a number of bacterial species found in the human and animal gut and the environment. The microorganism has been implicated in outbreaks causing meningitis or enteritis, especially in infants. In the few outbreaks reported 20% to >50% of the infants who contracted the disease died. For survivors, severe lasting complications can result including neurological disorders. The outcome related to adult disease seems to be significantly milder.

Bakteri ini bisa masuk ke dalam susu formula (bayi), umumnya melalui 3 jalur mendasar:

  1. Melalui material dasar (bahan) produk untuk membuat susu formula;
  2. Melalui kontaminasi formula atau bahan kering lainnya pasca pasteurisasi;
  3. Melalui kontaminasi ketika menyiapkan susu formula tepat sebelum diberikan pada bayi.

Beberapa makanan lain juga bisa tercemar oleh E. sakazakii, namun susu formula yang paling banyak dihubungkan dengan kejadian luar biasa penyakit yang disebabkannya.

Lanjutkan membaca “Susu Formula yang Tercemar Bakteri Enterobacter Sakazakii”