Menggunakan Masker Bedah?

Masker bedah cukup populer digunakan oleh masyarakat di luar tenaga kesehatan, tentu saja terkait fungsinya untuk mencegah penularan penyakit dari cipratan cairan. Tidak heran kadang saya bisa melihat jejeran pasien mengenakan masker bedah di ruang tunggu Puskesmas, suatu pemandangan yang mungkin satu atau dua dasawarsa yang lalu hanya ada di film-film Barat yang bertemakan bencana biokimia.

Penggunaan Masker Bedah (Ilustrasi). Sumber: straitstimes.com.

Continue reading →

Iklan

Saat Dokter Memilih Penlight

Salah satu alat yang dibawa kemana-mana oleh dokter, perawat, bidan dan tenaga kesehatan lain adalah penlight, yang kadang disebut juga dengan sebutan senter dokter atau senter medis. Alat ini termasuk alat yang memiliki usia pakai tidak panjang, sekitar 3 hingga 6 tahun sebelum diganti dengan yang baru.

Pada banyak kenyataan praktik di lapangan, tidak jarang senter medis atau penlight diganti dengan menggunakan senter biasa, atau senter LED yang bisa dibeli di toko alat listrik. Tergantung pemanfaatannya, pilihan menggunakan senter biasa tidaklah selalu baik.

IMG_20171013_155634

Menggunakan Penlight dengan memilih mempertimbangkan unsur kenyamanan dan keselamatan pasien.

Continue reading →

Menciptakan Proses Suntikan yang Aman

Suntikan merupakan salah satu prosedur medis yang paling umum secara global. Hampir setiap orang pernah disuntik, baik dengan tujuan pencegahan penyakit, pengobatan penyakit, ataupun terkait donor darah hingga menyelamatkan jiwa. WHO – Organisasi Kesehatan Dunia memperkirakan setiap tahun setidaknya ada 16 miliar suntikan (injeksi) diberikan di seluruh dunia, namun tidak semuanya aman.

Pemberian suntikan yang tidak aman misalnya ketika alat suntik digunakan lebih dari sekali, atau satu alat suntik dipakai bersama-sama. Suntikan yang tidak aman ini dapat menyebarkan penyakit yang mematikan seperti Hepatitis B, Hepatitis C, dan HIV.

Continue reading →

Perhatian Terhadap Pencegahan Infeksi

Pencegahan dan kontrol terhadap infeksi merupakan topik yang tak pernah usai dalam pelayanan kesehatan. Permasalahan-permasalahan global seperti: 1 dari 10 pasien mendapatkan infeksi ketika menjalani perawatan, hingga 32% pasien pasca operasi mendapatkan infeksi (dan hingga 51% kebal antibiotik), hingga 90% pekerja kesehatan tidak membersihkan tangannya di beberapa pusat layanan kesehatan, infeksi menyebabkan hingga 56% kematian bayi yang dilahirkan di rumah sakit dan seterusnya.

Continue reading →

Permenkes nomor 27 tahun 2017 tentang Pedoman PPI di Fasyankes

Pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI) di lingkungan fasilitas layanan kesehatan telah menjadi standar tersendiri dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan itu sendiri. Sebagai tempat berkunjungnya pasien dengan pelbagai jenis penyakit infeksi, tentunya pusat layanan atau fasilitas layanan kesehatan menjadi tempat lalu lintas potensi infeksi. Sedemikian hingga kontrol/kendali dan pencegahan penyebaran infeksi dari satu orang ke orang lainnya, baik staf maupun pengunjung/pasien di fasilitas layanan kesehatan itu perlu diterapkan dengan standar dan sistem yang baik.


Continue reading →

Mempertimbangkan Vaksinasi Rotavirus bagi Anak

Infeksi rotavirus adalah penyakit infeksi paling umum pada bayi dan anak-anak. Mereka yang terkena infeksi rotavirus akan mengalami gejala diare cair akut, seperti misalnya diare cair yang berat, sering disertai oleh muntah, demam dan nyeri perut. Muntah dan diare cair ini bisa berlangsung selama 3 hingga 8 hari (Center for Disease Control and Prevention (CDC), 2014).

Walaupun infeksi rotavirus termasuk penyakit yang swasembuh, namun beberapa kasus bisa menjadi kasus-kasus yang mengalami komplikasi buruk, mulai dari dehidrasi berat hingga kematian. Di Indonesia sendiri kejadian infeksi rotavirus bukanlah hal yang langka, hanya saja kita tidak memiliki dokumentasi yang baik untuk kasus ini (Soenarto et al., 2009). Penulis sendiri ragu, seberapa banyak kode diagnosis A08.0 – Enteritis Rotaviral ada di fasilitas kesehatan, dibandingkan dengan kode A08.4 – infeksi usus oleh virus yang tidak ditentukan.

Pada daerah-daerah dengan kesadaran kesehatan yang baik, dan pola hidup sehat dan bersih terjaga secara berkelanjutan, bisa jadi insidensi diare cair akut akibat rotavirus sangat jarang menimbulkan morbiditas yang menghawatirkan. Namun tidak demikian halnya pada wilayah-wilayah yang sanitasinya belum baik.

Pola hidup bersih dan sehat baik dalam mencegah penyakit infeksi secara umum. Pencegahan yang spesifik seperti vaksinasi yang kemudian juga layak dipertimbangkan. Oleh karena rotavirus tampaknya masih merupakan penyebab utama diare berat pada anak-anak di bawah usia lima tahun (Nirwati, Wibawa, Aman, Wahab, & Soenarto, 2016).

Vaksinasi bermakna melakukan pencegahan melalui sistem kekebalan tubuh anak. Sedemikian hingga ketika terjadi infeksi rotavirus, anak-anak sudah memiliki kekebalan spesifik untuk melawan virus tersebut. Ini akan bermanfaat bagi anak-anak yang tinggal di wilayah endemis rotavirus, atau bagi anak yang sering berpindah-pindah dari satu wilayah ke wilayah lainnya oleh sebab apa pun – seperti pekerjaan orang tua.

Dalam pengalaman penulis, pemberian vaksinasi rotavirus nyaris tidak pernah ditemukan, mungkin saja ada, namun riwayat itu tidak tergali. Banyak hal yang membuat vaksinasi rotavirus tidak populer selain memang merupakan suatu konsep yang baru berupa kuncup di Indonesia, seperti misalnya prioritas kebijakan kesehatan yang belum ke arah tersebut, kurang dihargainya vaksinasi ini, hingga memang kemampuan keuangan yang pada akhirnya juga memberikan andil (A.A., N., K., & M.J., 2014). Selain itu, tampaknya memang belum semua tenaga kesehatan memahami ketersediaan vaksin rotavirus dalam mencegah diare berat pada anak, setidaknya salah satu penelitian di Yogyakarta menyatakan demikian (Seale et al., 2015). Padahal harapannya, dengan pencegahan yang diperkuat oleh vaksinasi, selain memberikan perlindungan terhadap dampak buruk diare berat, beban biaya kesehatan untuk penanganan kasus diare berat pada anak juga dapat dihemat (Wilopo et al., 2009). Pada akhirnya akan bermanfaat bagi semua pihak.

Salah satu penelitian terbaru di wilayah sub-Sahara, vaksin rotavirus yang tahan panas dengan harga yang terjangkau diujicobakan. Penelitian ini menunjukkan bahwa pemerian tiga dosis vaksin pentavalen rotavirus bovin via oral (BRV-PV) pada usia 6, 10, dan 14 minggu mampu menunjukkan kemanjuran (efficacy) 66,7% dalam melawan gastroenteritis berat pada anak-anak (Isanaka et al., 2017). Continue reading →

Cuci Tangan di Rumah Sakit

Sebagai tempat yang memiliki angka penularan infeksi tinggi, rumah sakit selayaknya memiliki sistem kewaspadaan yang berupa pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI), baik berupa komite di rumah sakit yang besar – maupun sebuah tim di rumah sakit yang kecil. Kebijakan rumah sakit mesti memihak kepada upaya-upaya dan kontrol terhadap angka penularan infeksi di lingkungan rumah sakit. Continue reading →