Film ke-18 Detective Conan mengambil judul “the Dimensional Sniper“, tentang pembunuhan yang dilakukan secara beruntun oleh penembak jitu di tengah keramaian kota, sehingga membuat seluruh kota menjadi panik. Sepertinya film ini adalah perayaan ke-20 tahun keberadaan Detective Conan, dan ceritanya masih belum mau berakhir. Lanjutkan membaca “Case Closed: the Dimensional Sniper”

Case Closed: the Dimensional Sniper

Film lanjutan animasi How to Train Your Dragon 2 dari Dream Works sepertinya agak mengecewakan bagi saya. Animasi yang disajikan memang luar biasa memanjakan mata, dan jalan cerita pun benar-benar disusun baru walau agak klise. Mungkin cerita klise yang sudah bisa ditebak walau tanpa membaca bocoran kisahnya membuat film ini sedikit kurang menarik. Lanjutkan membaca “How to Train Your Dragon 2”

How to Train Your Dragon 2

Film Oz the Great and Powerful

Saya menonton film ini, mungkin karena terikat dengan salah satu musik favorit saya, “Over the Rainbow“. Setidaknya seminggu sekali, saya akan mendengarkan lagu ini di saat santai. Sayangnya, kali ini tidak muncul dalam film terbaru Disney, “Oz the Great and Powerful”.

Lalu apa yang ditawarkan film ini? Saya bisa katakan, “dunia baru” yang diciptakan benar-benar karya imaginasi yang tiada duanya, dibandingkan semua film yang pernah saya tonton. Ini seperti banyak dunia film dijadikan satu. Apakah mendekati film “Wizard of Oz” tahun 1939 yang pernah ditayangkan di televisi kita di masa lalu? Entahlah, saya lupa, terlalu kecil untuk mengingatnya, tapi saya rasa “keajaiban imaginasi” yang diberikan, nyaris sebanding. Lanjutkan membaca “Film Oz the Great and Powerful”

Serial Angel Heart

Penggemar komik era 80-an hingga 90-an tentu mengenal tokoh City Hunter – Ryo Saeba, karya  Tsukasa Hojo. Sempat juga diangkat dalam drama seri Korea dengan judul yang sama dan tayang di salah satu televisi lokal kita beberapa waktu yang lalu. Lalu tentu saja juga ada spin-off yang berjudul Angel Heart, dengan karakter yang sama, namun tokoh utama yang berbeda.

Berbeda dengan City Hunter, pembawaan Angel Heart lebih menunjukkan unsur drama dan gejolak emosi yang lebih dalam. Saya suka dua-duanya, hanya saja kalau memilih yang lebih kocak, tentu saja edisi City Hunter menjadi lebih lucu menurut saya. Lanjutkan membaca “Serial Angel Heart”

Serial Sworld Art Online

Saat libur saya melihat lagi beberapa koleksi serial anime lawas yang sempat saya tonton tahun lalu. Salah satu yang paling menarik perhatian adalah Sworld Art Online, atau disingkat SAO. Tanpa melihat bahwa ini adalah salah satu film anime favorit di akhir tahun 2012, saya sendiri sejak seri pertama dirilis – tidak melewatkannya sama sekali, padahal komiknya (manga) tidak begitu menarik menurut saya. Ada yang bilang karena novel pendeknya cukup menarik dan menduduki penjualan teratas sehingga dibuat menjadi serial animasi.

Mulai dari episode pertama, saya tahu bahwa SAO akan menjadi seri anime yang tidak bisa saya lewatkan begitu saja. Sepertinya serial ini meningatkan saya saat bermain video game Final Fantasy VIII beberapa tahun silam. Kisah romantisme dan petualangan, sangat sayang untuk dilewatkan – meski beberapa orang tidak setuju dengan masuknya romantisme ke dalam serial ini. Lanjutkan membaca “Serial Sworld Art Online”

Case Closed: The Eleventh Striker

Film Detective Conan ke-16 “The Eleventh Striker” sudah rilis 14 April tahun lalu, namun saya baru bisa menyaksikannya sekarang karena DCTP baru saja merilis fansub-nya, hanya saja mungkin ini adalah film terakhir yang akan di-sub oleh mereka. Film ke-17 “Private Eye in the Distant Sea” tidakan akan ditangani oleh DCTP lagi.

Dibandingkan film sebelumnya “Quarter of Silence“, maka “The Elevent Striker” tampaknya tidak begitu menggigit. Ah, jika saya membandingkan, lama kelamaan serial Case Closed atau Detective Conan ini malah seperti franchise serial James Bond, antara mana yang lebih enak, dan mana yang tidak. Saya bukan penggemar sepak bola, namun bagi para penggemar bola dan anime, mungkin ini adalah sebuah film yang ditunggu-tunggu karena memperlihatkan J-Lague (liga sepakbola utama Jepang) yang terlibat sebagai aktornya. Lanjutkan membaca “Case Closed: The Eleventh Striker”

Rurouni Kenshin – The Movie

Akhir minggu ini saya jadi teringat kembali masa-masa SMP dulu ketika masih asyik menikmati film animasi Rurouni Kenshin, atau yang lebih dikenal dengan Samurai-X oleh anak-anak pada masa itu. Saking populernya, mungkin tidak ada anak yang tidak pernah mendengar nama si samurai pengelana ini.

Sekitar Oktober lalu, film drama aksi untuk Rurouni Kenshin dirilis di sejumlah negara, termasuk negara asalnya di Jepang. Rasanya bernostalgia sekali ketika menyaksikan film ini kembali, meski dalam versi yang berbeda, bukan animasi lagi. Lanjutkan membaca “Rurouni Kenshin – The Movie”

The Dark Knight Rises

Membaca judul itu, Anda mungkin sudah dapat menduga bahwa yang akan saya ceritakan adalah tentang film terbaru “Batman: The Dark Knight Rises” yang mengambil baris penanda “The Legend Ends“. Tapi tentu saja sudah terlambat, karena film ini sudah tayang sejak 20 Juli yang lalu di Indonesia, namun saya cukup beruntung masih dapat menyaksikannya di teater.

The Dark Knight Rises mengambil latar cerita delapan tahun setelah kisah “The Dark Knight” sebelumnya yang dirilis pada tahun 2008 yang lalu. Kisah yang diambil dari tokoh fiksi DC Comic ini bisa dikatakan cukup menarik, dan saya rasa mengembalikan saya dengan cita rasa film-film Batman di era-era terdahulu dengan sentuhan teknologi yang lebih modern. Lanjutkan membaca “The Dark Knight Rises”

Conan dan Lupin

Akhir pekan ini saya agak suntuk, beruntung ada koleksi lawas film “Lupin III versus Detective Conan” yang bisa ditonton. Arsene Lupin adalah salah satu karakter novel Prancis yang terkenal sebagai “gentlement theift” yang biasanya merujuk pada sosok yang cukup terpandang dan berada namun menekuni dunia pencurian benda-benda berharga/koleksi. Karakter Lupin III di sini terinspirasi dari kisah yang sama.

Sementara, Detective Conan (Case Closed) sangat identik dengan sentuhan kisah-kisah Sherlock Holmes, karakter detektif dari novelis Inggris yang terkenal. Kalau melihat kembali animasi ini, jadi teringat dua rangkaian “Arsene Lupin vs. Herlock Sholmes”. Lanjutkan membaca “Conan dan Lupin”

The Last Airbender

Kali ini saya akan menulis sedikit tentang film ‘The Last Airbender’ yang sudah rilis sejak minggu lalu di Indonesia. Sebenarnya sih Bhyllabus sedang dalam masa hibernasi saat ini, namun karena tulisan ini sudah ‘ditodong’ oleh salah satu kolega saya yang sudah baik hati mentraktir nonton film ini sehari yang lalu, jadi saya pun akan memberikan sedikit ulasan amatiran saya seperti biasanya.

Kita semua pastinya sudah tahu bahwa film ‘The Last Airbender’ ini adalah karya sutradara & penulis naskah M. Night Shyamalan yang diadaptasi dari serial animasi ‘Avatar: The Last Airbender’ (juga dikenal sebagai ‘Avatar: The Legend of Aang’) yang diciptakan oleh Michael Dante DiMartino dan Bryan Konietzo – salah satu dari film animasi anak terlaris di dunia.

Sebagai penulis naskah & Sutradara, Shyamalan sudah menghasilkan beberapa karya lainnya yang mungkin Anda kenal seperti The Happening (2008), Lady in the Water (2006), dan Stuart Little (1999). Saya berharap sentuhan Shyamalan kali ini dalam ‘The Last Airbender’ akan cukup bagus, mengingat karya-karyanya yang sebelumnya.

Namun terus terang saja, saya harus menahan sedikit rasa kecewa di dalam diri saya – kekecewaan yang serupa (atau lebih parah) ketika saya menonton film ‘Avatar’ karya James Cameron, atau film ‘2010’ yang penuh kontroversial itu. Tapi tentunya film ini tetap menarik disimak oleh anak-anak, yang akan melihat beberapa sudut berbeda dari cerita yang dulu mereka hanya lihat dalam dunia animasi.

Coba saya lihat ulang beberapa alasan kekecewaan saya, walau mungkin itu bisa menjadi alasan yang baik untuk tidak kecewa. Pertama, karakter dalam serial animas ‘Avatar: The Last Airbender’ termasuk karakter yang unik, perpaduannya memang sulit ditemukan dalam sehari-hari, karena banyak membawa nilai moral dari budaya Timur. Dalam film ‘The Last Airbender’ – saya khawatir – karakter-karakter ini tidak dapat dihidupkan dengan baik. Jadi ketika pergi ke bioskop hanya menonton orang-orang baru dengan nama peran yang sama, sama sekali tidak menghidupkan peran tokoh-tokohnya. Jadi rasanya menonton kisah dari dunia pararel, serupa tapi tak sama. Jika Anda ingin sesuatu yang bisa menghidupkan animasinya di layar lebar, mungkin Anda akan kecewa, tapi jika Anda menginginkan sesuatu yang baru dan segar, mungkin film ini akan menghibur.

Kedua, alur & latar cerita. Salah satu bagian yang menguatkan animasi ‘Avatar: The Last Airbender’ adalah jalan cerita yang tidak monoton, lumayan sulit diterka, dan memang memiliki daya tariknya, sedemikian hingga banyak orang yang menonton berkali-kali pun tidak akan merasa bosan. Namun dalam film ‘The Last Airbender’, alur & latar cerita nyaris berbeda sepenuhnya, jika seseorang tidak pernah menonton serial animasinya mereka bisa jadi kebingungan dengan kisah ini. Setidaknya begitulah yang saya temukan di tempat parkir ketika seseorang berusaha keras menjelaskan pada temannya (yang mungkin belum pernah menonton animasinya) yang bingung dengan jalan cerita yang baru saja mereka tonton.

Film ini hanya dimulai dan diakhiri di lokasi yang sama dengan serial animasinya, lalu apa yang terjadi di antara dua lokasinya dan bagaimana perjalanannya sama sekali berbeda. Di film ini Anda tidak akan menemukan para pejuang Kyoshi, tidak ada pertemuan dengan Raja Bumi – padahal Raja Bumi adalah salah satu bagian dari pimpinan Ordo Lotus Putih yang mengarahkan Aang guna menemukan guru pengendalian buminya, tidak ada pertempuran aerial melawan armada laut negara api ketika Aang mencoba menemui Avatar Roku. Namun sebaliknya Aang dan rekan-rekannya bergerilya membebaskan berbagai desa kerajaan bumi dari jajahan negara bumi, dan akhirnya bertemu roh naga yang menuntunnya pergi ke suku air Utara untuk menahan serangan negara api. Berbeda sekali dengan serial animasinya yang memang sengaja dari awal mengisahkan Aang dan rekan-rekannya yang ingin mencari guru pengendalian air di suku air Utara.

Dalam film ini, Aang ternyata tidak lebih berbakat daripada Katara dalam pengendalian air, padahal di serial animasinya kita sudah melihat yang sebaliknya. Tentu saja pembalikan fakta ini memiliki tujuan untuk memotong alur cerita sehingga bisa diperpendek untuk tayangan sebuah film yang berdurasi sekitar dua jam ini (ah, saya lupa menghitung waktunya).

Film ini hanya memuat buku pertama, ‘Water’ dari tiga buku yang menjadi seluruh serial animasi Avatar, jadi belum termasuk buku kedua (‘Earth’) dan buku ketiga (‘Fire’). Oleh karenanya film ini lebih banyak pada pengenalan tokoh dan tentu saja tentang pengendalian elemen air. Jika melihat dari gerakan yang diperagakan, mungkin teknik yang digunakan diambil dari seni Taijikuan (dikenal juga sebagai tai chi chuan), dan jika Anda pernah membaca komik Kenji di era akhir 80-an atau sekitar tahun 90-an, maka tentu saja akan familir dengan gerakan-gerakan yang ada di film ini. Tentu saja gerakan dalam tokoh-tokohnya tidak begitu matang, kita tidak bisa menguasai tai chi dalam satu atau dua tahun saja kemudian jadi mahir (kecuali mungkin secara ajaib dididik langsung oleh Zhang Sanfeng), namun tentu saja lebih baik daripada saya tidak bisa sama sekali. Saya berharap yang jadi tokoh Guru Pakku misalnya adalah aktor laga Jet Li, karena kita tahu gerakan tai chi-nya sangat bagus ketika ia berperan dalam film ‘Tai Chi Master’ dulu. Namun Francis Guinan yang memerankan Guru Pakku kali ini sudah cukup baik menurut saya, apalagi perannya di film ini hanya terkesan sebagai figuran belaka.

Ketiga, efek khusus. Saya rasa kalau film ini sepenuhnya menggunakan CGI mungkin masih bisa menyerupai animasinya, namun efek khusus kali ini masih ada beberapa kekurangannya. Terutama ketika pertempuran antara pengendali air dan pengendali api, jika dua-dua menggunakan efek khusus maka kekurangannya nyaris tidak tampak, namun ketika ada penggunaan elemen statis, misalnya api yang memang itu nyala biasa (bukan virtualisasi) akan tampak aneh jika bersanding dengan elemen air yang divirtualisasi – bayangkan saja, api kecil tidak padam saat ada banyak air tersiram ke atasnya.

Keempat, antara trailer dan movie. Ternyata tidak semua yang ada di trailer-nya tayang dalam film-nya – wah, apa itu berarti pembohongan publik? Entahlah, saya tidak mau ikut campur. Yang jelas, karena dari awal sudah merasa tidak pas, jadi sulit juga memberi nilai bagus pada film ini. Dan mungkin hanya memberi nilai 2,5 dari 5 bintang yang mungkin bisa diberikan.

Dan terakhir, walau film ini secara unik ‘menghancurkan’ nyaris seluruh kesan hebat yang ada dalam animasinya, tapi juga tidak buruk, karena ada banyak detil kecil yang saya sukai. Atau jika Anda suka, mungkin sebagai hiburan menunggu lanjutan animasinya? ‘Avatar: Legend of Korra’?